Jumat, 22 Januari 2021

TIPS MENUMBUHKAN MENTAL SEBAGAI PENULIS

TIPS MENUMBUHKAN MENTAL SEBAGAI PENULIS
 
Oleh YULIANI, S.Pd
(Guru SD Negeri 7 Nisam, Kab. Aceh Utara)


Suasana hujan mengiringi pertemuan ke sembilan Belajar Menulis Gelombang 17 bersama Pak Cip sebagai moderator  dan Ibu Ditta Widya Utami sebagai narasumber. Dengan penuh kerendahan hati, beliau mengatakan, “Jika bukan karena Omjay yang meminta, tentu di antara Bapak/Ibu ada yang lebih layak menjadi narasumber malam ini. Namun, sebagai wujud bakti murid kepada gurunya, izinkan malam ini saya membersamai Bapak dan Ibu sekalian 😊🙏🏻”.

Untuk menjadi seorang penulis andal, selain mengetahui teknik menulis, penting bagi kita untuk memiliki mental yang kuat dan sehat.

Jika kita tengok kisah beberapa penulis tersohor baik di dalam maupun di luar negeri, ternyata banyak yang harus jatuh bangun ketika memulai karirnya sebagai seorang penulis. Namun, karena mereka (salah satu faktornya) memiliki mental yang kuat, mereka bisa bangkit kembali dan akhirnya meraih kesuksesan.

Jadi, mental yang saya maksud di sini lebih kepada sebuah cara berpikir untuk dapat belajar dan merespons suatu hal. Sebagaimana yang dilakukan para penulis hebat dalam menghadapi setiap tantangan.

Bu Ditta menorehkan beberapa tulisannya pada https://www.kompasiana.com/ditta13718 dan https://dittawidyautami.blogspot.com . Beliau juga pernah membuat tulisan pendek berjudul Djogja Backpacker di storial.com https://www.storial.co/book/djogja-backpacker

Ada juga yang di Wattpad seperti Precious https://www.wattpad.com/480692862-precious-1-terdampar-di-upi

dan "Mengapa Tak Kau Tanyakan Saja" di https://www.wattpad.com/794784777-mengapa-tak-kau-tanyakan-saja-tamat-mengapa-tak

MENTAL SEORANG PENULIS

1. Siap Konsisten

"Teruslah menulis setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." (Omjay)

Satu kutipan di atas sebetulnya sudah cukup menjadi bekal untuk kita sebagai penulis pemula.

Jika kita sudah berniat untuk meningkatkan skill menulis, maka kita harus ingat bahwa menulis adalah sebuah kata kerja. Artinya, harus ada tindakan nyata.

Saat ini banyak sekali platform untuk menulis yang bisa kita manfaatkan. Contohnya seperti yang saya share. Tapi mungkin masih ada yang menulis seperti Soe Hoek Gie. Dari buku catatan kemudian lahir sebuah buku. Atau seperti RA Kartini dari surat-suratnya juga lahir sebuah buku.

Semua orang mungkin bisa menulis. Tapi, untuk jadi penulis andal, butuh mental kuat agar bisa konsisten menulis. Salah satu tips agar bisa memiliki mental untuk konsisten adalah dengan mengenali diri sendiri. Sehingga tantangan apa pun yang menghadang, kita akan tau apa yang harus kita lakukan.

2. Siap Dikritik

Bapak/Ibu yang bahagia hatinya, saat kita memutuskan untuk memublikasikan hasil tulisan kita di blog/buku/media sosial/media massa, dsb, maka penting kita sadari bahwa tulisan kita telah menjadi "milik publik".

Dengan demikian, kita harus menyiapkan mental untuk menerima masukan dari publik. Tak hanya bersiap untuk komentar baik, kita pun harus bersiap bila ternyata ada yang mengkritik dengan cukup tajam atas tulisan kita.

Dengan adanya masukan/kritik dari berbagai pihak, kita bisa mengetahui kekurangan dalam tulisan kita. Bukan hanya dari kacamata sendiri, tapi juga dari kacamata pembaca.

3. Siap Belajar

Jika sudah senang dan konsisten menulis, sudah bisa menerima saran maupun kritik, maka sungguh kita memiliki mental untuk belajar bertumbuh.

Ada dua cara yang dapat ditempuh :

a. Melakukan riset

Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tulisan adalah dengan melakukan riset. Bisa dengan berkunjung ke perpustakaan, berkunjung ke toko buku untuk mengamati buku-buku best seller, melacak apa yang sedang menjadi trend di sosial media maupun dengan google traffic, dsb.

b. Tambah Bacaan

Saat ini, dimana literasi begitu digaungkan, maka kita harus menyiapkan mental untuk siap menjadi orang yang literat. Salah satunya dengan meningkatkan daya baca.

Daya baca berbeda dengan minat baca. Berikut tulisan saya tentang daya baca…

4. Siap Ditolak

Mental berikutnya yang perlu kita sadari adalah siap ditolak oleh media maupun penerbit, dll.

Saat naskah kita ditolak, coba lagi dan lagi. Atau cari alternatif lain. Misal dengan menerbitkan sendiri atau dipublish di berbagai media sosial.

JK Rowling pernah ditolak belasan penerbit. Dewi "Dee" Lestari sang penulis Supernova pun pernah merasakan ditolak penerbit. Bahkan sekelas novelis horor Stephen King pun pernah ditolak.

Bayangkan, jika mereka berhenti berjuang saat ditolak penerbit satu dua kali, mungkin saat ini kita tidak akan mengenal karya karya hebat mereka.

5. Siap Menjadi "Unik"

The last but not least. Mental yang perlu kita tanamkan untuk menjadi penulis adalah just be yourself. Jadilah diri sendiri. Jadilah unik.

Maksudnya dalam menulis nggak perlu terlalu ikut-ikutan seperti orang kebanyakan. Tulis saja apa yang paling kita sukai. Yang paling sesuai dengan diri kita.

Omjay misalnya selalu unik dengan tulisan setiap harinya. Mr. Bams unik dengan kalimat-kalimat positifnya. Dan Bu Kanjeng yang unik dengan gaya bahasanya yang begitu hidup.

Tengok blog atau buku Raditya Dika, isinya pasti humor. Jika membaca buku-buku Justin Gaarder (penulis Dunia Sophie), jangan heran jika terselip unsur filsafat. Karena basicnya beliau memang pernah jadi guru filsafat sebelum menjadi penulis.

Nah, apa yang unik dalam diri kita? Mari kita tuangkan dalam bentuk tulisan.

Jadilah penulis jujur yang apa adanya dan ada apanya. Tidak dibuat-buat/dipaksakan (apa adanya) namun tetap berbobot (ada apanya). *Yang kedua bisa kita tingkatkan dengan terus berlatih menulis dan membaca.

Sekitar pukul 20.00 WIB, Bu Ditta mengakhiri materinya dan memberi kesempatan pada para peserta untuk bertanya dengan mengembalikan kendali acar pada Pak Cip.

Cara memunculkan ide dan kreatifitas yang beda dengan yang lain sehingga dapat membranding diri menjadi unik adalah dengan terus berlatih membaca dan manulis. Ada catatan jika kita ingin belajar menulis melalui membaca. Membaca bisa menambah kosa kata, wawasan, dsb sehingga akan banyak ide bermunculan. Jangan gunakan teknik membaca cepat. Pelajari tata bahasa yang digunakan. Pemilihan kosa kata dan sebagainya. Cerna. Tapi yang terpenting tetap gunakan gaya bahasa kita sendiri.

Menulis resume pelatihan belajar menulis ini pun sesungguhnya melatih kita untuk menjadi unik. Karena setiap orang mendapat materi yang sama, namun harus membahasakan dengan gaya masing-masing sehingga menjadi lebih segar dan unik.

Tips untuk konsisten menulis itu bisa banyaaak sekali, antara lain :

  • Tentukan niat menulis, misal untuk berbagi kebaikan, untuk memoar perjalanan hidup, untuk mencicil agar nanti bisa dibukukan, dsb.
  • Agar tidak kena writer's block dan tetap konsisten menulis, maka tulis apa pun yang kita sukai. Walau sederhana dan walau hanya beberapa paragraf saja.

Kita ini manusia biasa. Membuat semua orang menyukai kita, menyukai tulisan kita, adalah hal yang boleh jadi mustahil. Kita tidak bisa mengontrol siapa yang suka dan tidak terhadap tulisan kita. Tapi, kita bisa mengontrol bagaimana respons kita dalam menyikapinya. Jika Ibu ingin tulisan banyak dibaca silakan cari tema yang sedang tren di masyarakat. Bisa juga dengan cari di google traffic apa saja yang ramai dibicarakan. Atau buka sosial media, biasanya kita juga bisa tau apa yang ramai dibicarakan. Lalu buat tulisan tentang itu. Tips lainnya buatlah judul yang menarik.

Seringkali beberapa tulisan tidak tuntas karena tergoda menulis yang lain. Tips agar kita tidak gampang tergoda yang lain yaitu sebelum bisa menuntaskan satu tulisan, buat beberapa draft dengan sebanyak tema ide yang muncul. Lalu buat outlinenya. Bisa beberapa kata kunci dari setiap tema. Lebih bagus kalau kalimat kalimat pokok yang dituliskan. Hal ini bisa membantu kita untuk menulis beberapa tema sekaligus. Jika tidak ada outline, biasanya (saya sih) lupa kelanjutannya harus bagaimana. Sungguh, outline itu sangat membantu.

Tahukah Anda mengapa saya senang ada blog? Karena tidak ada aturan baku di blog!

Blog kita ya milik kita. Kontennya mau bagaimana terserah kita. Isinya mau apa, terserah kita. Tulisannya mau bagaimana? Juga terserah kita.

Bebas. Merdeka.

Tapi ... Nah tentu kita harus pandai menempatkan diri. Tidak mungkin kan, menulis artikel (katakanlah untuk surat kabar provinsi) kita gunakan bahasa seenak kita? Kita harus cermati bahasa seperti apa yang digunakan media tersebut.

Dalam jurnal atau artikel ilmiah ada aturannya. Menulis ke penerbit mayor, juga usahakan sudah sesuai PUEBI agar memudahkan proses seleksi dan editing.

So, menurut saya tidak masalah selama kita tahu dimana kita menulis 😊🙏🏻

Demikianlah resume malam ini. Semoga bermanfaat!

15 komentar:

  1. MasyaAllah, tulisan yang luar biasa, enak dibacnya. semangat berkarya, semangat ,menginspirasi

    BalasHapus
  2. Waah sama dengan yang lainnya mantul juga, gercep namun ttp tulisannya berbobot dan enak tuk dibaca. Lanjutkan !

    BalasHapus
  3. Sip. Terima kasih sudah membuat resumenya. Sedikit saran, akan lebih baik tentunya bila dibahasakan dengan bahasa kita sendiri sehingga menjadi lebih "unik" 😊 saya yakin, Ibu Bisa! Semangatttt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih masukkan ya Bu Ditta. Akan saya coba perbaiki.

      Hapus
  4. Bagus Bu Ully, si biru jadi bikin betah

    BalasHapus
  5. Mantap bu...saran sedikit bu...ada beberapa tulisan beda dengan yang lain...akan terlihat lebih rapi kalau disamakan...tetap semangat bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Pak. Terimakasih masukkannya. Makin semangat

      Hapus