Sabtu, 26 Februari 2022

2.1.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 10 - Yuliani

Oleh Yuliani, S.Pd


Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Pada kesempatan ini, saya coba menyampaikan jurnal refleksi dalam model Six Thinking Hats seperti berikut :

Jurnal refleksi Minggu 10 Model Six thinking Hats

Semoga dengan membuat jurnal refleksi, dapat menjadi sebuah ikhtiar dalam memperbaiki dan mengembangkan diri. Terima kasih banyak buat Bapak Muhammad, fasil yang senantiasa mensupport kegiatan CGP, Bapak Cok yang telah berbagi pemahaman, Pak Yayan selaku bagian teknis LMS serta semua rekan CKP dan Kemdikbud yang telah memfasilitasi kegiatan PGP. 

Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Salam guru penggerak. Guru Bergerak. Indonesia Maju.

Kamis, 24 Februari 2022

2.1.a.10. Aksi Nyata - Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh : Yuliani, S.Pd


Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Setiap hari, setelah menikmati menu materi pada PGP si setiap modul, tentunya membuat saya semakin menyadari begitu banyak kekurangan dalam diri saya sebagai seorang pendidik. Begitu banyak materi yang sebenarnya sudah lama namun karena kurangnya waktu untuk membaca lebih memahami membuat saya sepertinya begitu asing dengan istilah-istilah baru yang saya temukan pada PGP ini walaupun pada kenyataannya hal tersebut bukan hal baru dan terkadang sudah biasa saya lakukan. Namun dengan strategi yang masih belum maksimal. 

Pembelajaran Berdiferensiasi yang merupakan penerapan nyata dari student center dan berupaya memenuhi kebutuhan belajar murid dengan memperhatikan berbagai aspek dan penerapan beberapa strategi tentunya sangat baik diterapkan di kelas. Sebagaimana diri kita sebagai seorang pendidik yang membutuhkan kebebasan dalam berekspresi dalam mengajar, mendidik, memanajemen kelas dan sebagainya yang membutuhkan berbagai peralatan dan teknik tersendiri. Demikian pula dengan siswa yang membutuhkan ruang khusus untuk mengekspresikan dan menampilkan minat dan bakat yang dimilikinya.

Merujuk pada RPP yang sudah saya buat di awal tahun ajaran/awal semester, sudah sepantasnya saya merevisi dan menyesuaikannya dengan pemetaan profil murid yang sudah saya buat dengan menambahkan diferensiasi konten/proses/produk yang sesuai/cocok untuk dilakukan dalam proses belajar mengajar di kelas saya.  

Sebuah perubahan tidak akan langsung membuahkan hasil tanpa kesabaran, kesungguhan, keuletan dan kerja keras yang tentunya harus diiringi dengan doa. Sebuah perencanaan hanya akan menjadi sebuah rencana jika tidak diimplementasikan pada sebuah tindakan nyata. Semua kegiatan yang kita laksanakan perlu didokumentasikan dan direfleksi untuk mengetahui sejauh mana perkembangannya, apa hambatannya, bagaimana solusi menghadapi hambatan yang ada dan apakah hal ini berdampak positif untuk dilanjutkan? 

Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak, Indonesia Maju.

Rabu, 23 Februari 2022

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh : Yuliani, S.Pd

Setelah mempelajari materi pada Modul 2.1 yang terdapat pada LMS dan mengikuti sesi pertemuan daring dengan Fasilitator Bapak Muhammad, M.Pd dan para rekan CGP Angkatan 2 serta mengikuti sesi pemahaman bersama Instruktur, bapak Cokorda Agung Anre Juniana, akhirnya mampu mengubah pemikiran saya tentang apa dan bagaimana sebenarnya Pembelajaran Berdiferensiasi. 

Perubahan pemikiran tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi melalui Rencana Pembelajaran yang saya buat dan menjadi salah satu langkah perbaikan dalam proses belajar mengajar di kelas.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru merespon kebutuhan belajar murid. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan di kelas dengan memetakan kebutuhan belajar murid sebelum membuat rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memperhatikan tujuan pembelajaran jelas dan mengandung unsur ABCD (Audience, Behaviour, Condition and degree) untuk mengetahui pengetahuan, konsep dan ketrampilan essensial yang akan perlu dikuasai oleh murid. Memperhatikan langkah-langkah pada kegiatan pembelajaran yang menggunakan strategi konten, proses dan produk. Bisa salah satu maupun ketiga strategi tersebut digunakan sesuai kebutuhan belajar murid. 

Dengan melakukan pemetaan dan membuat RPP berdasarkan pemetaan yang ada dan menerapkan strategi diatas, maka Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. 








Saya melihat adanya keterkaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak. pada Modul 1, CGP mempelajari Paradigma baru, siapa dan bagaimana sebenarnya seorang guru dan murid berdasarkan filosofi Bapak KHD, Visi CGP, Peran CGP serta penerapan budaya positif di kelas dan sekolah.

Melalui penerapan budaya positif yang didalamnya terdapat membuat keyakinan kelas, merupakan sebuah langkah yang baik dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan menempatkan murid sebagai student center.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Salam Guru Penggerak. guru Penggerak Indonesia Maju.

Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 19 Februari 2022

2.1.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 9

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,


Alhamdulillah pembelajaran pada PGP telah berada pada Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi. Awalnya masih bingung tentang Pembelajaran Berdiferensiasi. Namun setelah mempelajari modul ini, berkomunikasi dengan Fasil dan Rekan CGP melalui Gmeet, forum diskusi di LMS dan WAG, Alhamdulillah saya mulai memahami apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana penerapannya dalam pembelajaran di kelas.

Pengalaman yang paling berkesan saat proses pembelajaran di kelas dengan murid yang beragam karakter, latar belakang, tongkat kemampuan dan lainnya sangat oenarik perhatian saya. Ada siswa yang cerdas, dan anak seorang guru namun secara sosial, dia kurang bergaul dan memilih teman dan cenderung tidak mau bekerjasama dg teman dengan alasan temannya suka mencontek saja tanpa mau berusaha. Ada murid yang pintar matematika, namun kurang dalam bahasa. Dia mampu menjawab pertanyaan lisan tentang matematika dengan mudah, namun dia kesulitan saat harus membaca soal. Dan berbagai macam keadaan lain.

Untuk mengatasi hal ini, saya menerapkan belajar berpasangan, awalnya dengan mengingatkan tentang keyakinan kelas yang telah kami buat, diantaranya saling menyayangi dan saling berbagi.

Pembelajaran berdiferesiensi yang saya ketahui yaitu tentang beragam perbedaan yang terdapat dalam diri peserta didik dan bagaimana guru memahami perbedaan tersebut untuk memberikan pembelajaran yang adil dan merata.

Berikut Kutipan saya dari LMS PGP Angkatan 4, "Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.Sebelum membuat RPP Berdiferensiasi, langkah yang harus guru lakukan adalah dengan menentukan kebutuhan murid.

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah Kesiapan belajar (readiness) murid, Minat murid dan Profil belajar murid".

Kesiapan belajar anak merupakan diagnosa awal yang dilakukan guru dalam memulai pembelajaran. Sebagai guru, diagnosa awal yang dapat dilakukan terhadap siswa untuk dapat membuat RPP berdiferensiasi adalah dengan membuat pemetaan kebutuhan belajar murid. 

Kesiapan belajar merupakan kemampuan murid untuk mempelajari materi baru. Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Sedangkan Profil belajar murid dapat saya asumsikan sebagai gaya belajar murid.

Pentingnya pemetaan kebutuhan belajar murid akan menjadi faktor pendukung dalam keberhasilan RPP berdiferensiasi yang kita laksanakan di kelas. Rencana pembelajaran yang dibuat harus mengimplementasikan salah satu dari diferensiasi konten, proses, atau produk.

Sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, kita sebagai guru dapat menentukan pengimplementasian RPP kita apakah berdasarkan konten, proses atau produk. Perbedaan kasus/masalah yang dialami siswa, tentunya tidak dapat diselesaikan dengan cara yang sama. Sebagaimana halnya seorang Dokter yang memberikan obat dengan jenis dan dosis yang berbeda pada pasien dengan penyakit yang berbeda.

Berikut contoh RPP berdiferensiasi yang saya buat untuk dilaksanakan di Kelas 4 SD Semester 2.






Demikianlah Jurnal Refleksi yang dapat saya sampaikan minggu ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. terima kasih.

Salam guru Penggerak. Guru Bergerak Indojnesia Maju.

Aksi Nyata Modul 1.3. Visi Guru Penggerak

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabaraktuh,

Alhamdulillah, Allah masih memberi kesehatan dan rahmat Nya bagi saya untuk menyelesaikan Portofolio Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru Penggerak

Menurut Ki Hajar Dewantara peralatan pendidikan merupakan cara-cara mendidik yang beragam bentuknya yang terbagi menjadi 6 cara utama yaitu : memberi contoh; pembiasaan; pengajaran; perintah, paksaan dan hukuman; laku serta pengalaman lahir dan batin.

Peralatan tersebut tidak perlu dipergunakan semua. Menurut beliau, penggunaan cara-cara tersebut harus dihubungkan dengan jenjang usia dan perkembangan murid yang merupakan kodrat mereka.

Rencana manajemen perubahan berdasarkan pendekatan IA, bertujuan untuk menumbuhkan murid yang memiliki Profil Pelajar Pancasila.








Demikianlah Portofolio Modul 1.3. Visi Guru Penggerak yang dapat saya sampaikan.
Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak Indonesia Maju.



Aksi Nyata Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Pada kesempatan ini, saya akan membuat sebuah Jurnal Portofolio Aksi Nyata Modul 1.2. Nilai dan Peran Guru Penggerak.

Perasaan saya selama melakukan aksi untuk menguatkan nilai dan peran Guru Penggerak, Alhamdulillah lebih optimis dan percaya diri bahwa saya akan dapat melaksanakan Program Guru Penggerak dengan baik melalui kolaborasi dan menjaga komunikasi yang baik dengan Kepala Sekolah, Dewan Guru, Komite Sekolah dan Murid serta aktor pendukung lainnya.

Ide atau gagasan yang timbul sepanjang proses pembelajaran Modul 1.2 adalah memasukkan materi yang saya dapat pada PGP dalam kegiatan KKG Mini SD Negeri 7 Nisam. 

Pembelajaran dan pengalaman dalam bentuk catatan praktik baik yang saya lakukan adalah berbagi pengalaman dan ilmu melalui KKG Mini yang dilaksanakan di SD Negeri 7 Nisam dengan saya sebagai Pemateri.

‘Foto bercerita’ dari seluruh rangkaian pelaksanaan (perencanaan, penerapan dan refleksi) Aksi Nyata saya adalah sebagai berikut :




 






Testimoni dari rekan guru dan murid yang terlibat dalam aksi yang saya lakukan :

 


Demikianlah laporan aksi nyata Modul 1.2, semoga bermanfaat.
Salam Guru Penggerak. Guru Penggerak Indonesia Maju,