Minggu, 27 Maret 2022

Jurnal Refleksi - Minggu 13

  Oleh : Yuliani, S.Pd


Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah walau kondisi saya belum sepenuhya pulih, namun dengan dukungan keluarga, teman-teman dan para rekan CGP dan fasil, saya berusaha untuk bersemangat dalam menyelesaiakn tugas-tugas dan mengikuti kegiatan Gmeet tentang latihan dan praktik Coaching. Selain mengejar tugas yang tertinggal di Modul 2.2, saya juga segera menyelesaikan semua tugas di Modul 2.3. Dan Alhamdulillah, perlahan-lahan saya mulai dapat mengejar ketinggalan saya.  

Pada kegiatan Minggu ini diharapkan kami para CGP dapat memahami konsep coaching dalam konteks pendidikan, mengidentifikasi perbedaan antara coaching dengan mentoring dan konseling dalam konteks pendidikan, menunjukkan pemahaman tentang Komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar coaching, membuat pertanyaan-pertanyaan yang efektif dalam rangka coaching pada murid, mendemonstrasikan pemahaman mengenai model coaching TIRTA, mengidentifikasi langkah-langkah dalam model coaching TIRTA, dan menganalisa setiap proses coaching dan mengeksplorasi teknik yang digunakan dalam coaching. Bagi saya, itu semua merupakan hal yang sangat baik, yang akan banyak menunjang keberhasilan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Tantangan utama saya dalam melakukan praktek coaching model TIRTA adalah kemampuan dan kemauan siswa dalam menyampaikan permasalahan, mengemukakan pendapat dan solusi yang masih terkesan ragu dan malu, terutama jika harus mengemukakannya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Saya membutuhkan waktu yang lebih banyak dan usaha yang lebih keras untuk mendalami materi coaching, agar dapat mempraktekkannya secara efektif di kelas dan sekolah saya.

Langkah yang saya tempuh untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan mendalami materi tentang Coaching, terus berlatih dengan mempraktekkannya serta mendiskusikan hal-hal yang masih belum saya kuasai bersama rekan CGP.

Saya merasa bersemangat dalam mengikuti pembelajaran latihan dan praktik Coaching, karena saya menyadari bahwa hal ini akan sangat bermanfaat bagi saya, anak didik dan lingkungan saya ke depannya. Rekaman Praktik Coaching yang kami lakukan, harus unggah pada LMS di 2.3.a.5.3. Ruang Kolaborasi (Unggah Hasil Rekaman). 

Alhamdulillah, berbekal kemampuan saya menggunakan Aplikasi Camtasia, saya merekam sendiri kegiatan praktik Coaching yang diselenggarakan secara daring pada BOR 1 saya bertindak sebagai Coach bersama rekan CGP, Ibu Darwani sebagai Coachee dan Ibu Maulidiana sebagai Pengamat, pada hari Jumat, 25 Maret 2022 yang dimulai pukul 21.00 WIB. 

Kemudian selain filenya saya unggah di LMS, saya juga mengunggahnya pada kanal youtube saya, dengan link https://youtu.be/z8BEZNJY9L4

Yang dapat saya jadikan pelajaran dari proses ini selain kerjasama dan komunikasi yang baik, saya harus terus menggali dan mengembangkan kemampuan saya sebagai seorang Coach. Untuk mendukung hal ini, saya juga mengikuti kegiatan Guru Motivator yang diselenggarakan secara daring bersama Bapak Afif Hidayatullah, seorang pakar Hipnoterapi. Saya juga membeli buku beliau yang berjudul Guru Sugestif. Saya berharap, dengan langkah yang saya tempuh ini, akan dapat mengembangkan kemampuan pedagogik saya sebagai seorang guru.

Setelah belajar dari peristiwa, saya akan melakukan aksi/tindakan nyata yaitu dengan terus menjaga kerja sama dan komunikasi dengan para pihak terkait serta mensosialisasikan dan mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan pada anak didik di kelas yang saya ampu dan lingkungan belajar tempat saya bertugas.

Demikianlah Jurnal Refleksi Minggu ini yang dapat saya sampaikan.

Terima kasih. Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Jurnal Refleksi - Minggu 12

 Oleh : Yuliani, S.Pd


Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Pengalaman saya mengikuti pembelajaran pada minggu ini penuh dengan tantangan. Saya mengikuti kegiatan Lokakarya 3 yang diselenggarakan secara online pada hari senin, 14 Maret 2022 dalam keadaan terbaring di RS. Terasa sangat melelahkan dan kurang puas karena saya tidak dapat berkosentrasi penuh dan berpartisipasi aktif mengikuti kegiatan. Kegiatan berlangsung seharian, dimulai pukul 07.45 WIB saya sudah standby disamping laptop. DItambah pada sore hari selesai kegiatan Lokakarya Online, dilanjutkan dengan Gmeet bersama Instruktur. Benar-benar terasa hari yang sangat melelahkan dan membosankan.

Saya sempat merasa marah dan kesal pada diri sendiri karena tidak dapat berkonsentrasi dan berpartisipasi aktif. Namun saya menyadari bahwa ini juga merupakan kesalahan saya yang terlalu memporsir diri dalam belajar dan kegiatan mengajar baik di kelas maupun di rumah bersama para rekan guru. Saya merasa dzalim terhadap tubuh saya karena kurang sempat beristirahat.

Yang tambah membuat saya kehilangan semangat adalah karena Dokter menyarankan saya untuk istirahat total minimal 2 minggu karena penyakit Types dan Drop Gula yang saya derita, sehingga saya tidak dapat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas secara on time.

Hal baik yang saya alami dalam proses tersebut yaitu bahwa saya harus lebih baik dalam memanajemen waktu dan mengurangi beberapa kegiatan mengembangkan orang lain, untuk beberapa saat ini hingga kondisi saya kembali sehat dan saya juga harus dapat menjaga pola makan dan istirahat yang cukup. 

Hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini adalah tidak sanggup mengerjakan tugas-tugas dengan menggunakan laptop dan HP karena kondisi saya yang masih lemah dan tidak sanggup duduk lama.

Dalam mengatasi kendala tersebut, saya meminta bantuan suami untuk mencetak materi-materi yang ada di LMS untuk saya pelajari dan baca sembari tidur.  Selain itu, saya juga menelpon rekan CGP untuk meminta bantuan dalam memberi pemahaman tentang materi yang sedang berlangsung.

Selama pembelajaran berlangsung, walau lelah dan sempat pesimis, namun saya merasa senang karena adanya dukungan dari rekan CGP dan juga Bapak Fasilitator yang senantiasa memberi infromasi-informasi terkait jadwal kegiatan dan hal-hal yang harus dilakukan oleh kami, para CGP. Beliau juga mau memberi saran dan masukan melalui WA pribadi. Alhamdulillah hal ini menambah semangat s aya untuk segera sembuh dan dapat beraktifitas kembali. 

Pelajaran yang saya dapatkan dari proses ini adalah kerjasama dan komunikasi yang baik, sangat berpengaruh pada keberhasilan suatu kegiatan. Hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini yaitu bahwa saya bagai gelas kosong yang senantiasa siap diisi dengan ilmu-ilmu baru.

Yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan adalah saya dapat mengembangkan diri dengan lebih baik sebagai dasar mengembangkan orang lain.

Aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini antara lain adalah dengan terus menjaga kerja sama dan komunikasi dengan para pihak terkait serta mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan pada anak didik di kelas yang saya ampu dan lingkungan belajar tempat saya bertugas.

Demikianlah Jurnal Refleksi Minggu ini yang dapat saya sampaikan.

Terima kasih. Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 21 Maret 2022

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - PSE

Oleh Yuliani, S.Pd

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, 

Pada kesempatan ini saya mencoba menulis Koneksi Antar Materi Modul 2.2. tentang Pembelajaran Sosial Emosional dengan pembelajaran berdiferensiasi.
Bapak KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraf 4 menyatakan bahwa, "Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat"

Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa Pembelajaran budi pekerti adalah pembelajaran jiwa manusia secara holistik. Hasil dari pembelajaran budi pekerti adalah bersatunya budi (gerak pikiran-cipta, perasaan-rasa, kemauan-karsa) sehingga menimbulkan pekerti (tenaga-raga-karya). Kebersihan budi adalah bersatunya cipta, rasa, dan karsa yang terwujud dalam tajamnya pikiran, halusnya rasa, kuatnya kemauan yang membawa pada kebijaksanaan.

Murid yang berkembang secara sosial dan emosional, pada saat yang sama mereka pun berkembang secara akademik. Mengabaikan pengembangan keterampilan sosial dan emosional akan membawa efek buruk secara akademik. Pembelajaran sosial dan emosional harus diimplementasikan secara sengaja. 
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Pada pembelajaran Sosial Emosional, dimana keadaan sosial dan emosional setiap orang, fokus peserta didik kita, tidak lah sama. Sehingga membutuhkan ketrampilan khusus dalam mengelola pembelajaran sosial emosional agar perkembangan sosial dan emosional dapat berkembang sejalan dengan perkembangan akademiknya.
Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (5 KSE) :
  1. Mengajarkan 5 KSE secara spesifik dan eksplisit
  2. Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid
  3. Mengintegrasikan 5 KSE dalam praktik mengajar dan gaya interaksi guru dengan murid
  4. Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain dan lingkungan
Pembelajaran Sosial Emosional dapat dilatih dengan kesadaran penuh (Mindfullness). Mindfullness merupakan sebuah perenungan atas hal-hal yang dialami dalam upaya merespon terhadap kondisi diri sendiri secara lebih tepat.

5 KSE terintegrasi dalam praktik mengajar dan gaya interaksi guru dengan murid
1. Pembukaan Hangat 
    ● memberikan kesempatan pada murid untuk berbicara
    ● mendengarkan aktif
    ● memungkinkan interaksi
    ● menciptakan rasa memiliki
    ● dapat menumbuhkan salah satu KSE
2. Kegiatan Inti yang melibatkan murid
    ● Diskusi akademik
    ● Setting kelas pembelajaran kooperatif
    ● Project-based learning
    ● Refleksi diri dan penilaian diri
    ● Pemberian suara dan pilihan
3. Penutupan yang optimistik
   ●Refleksi, apresiasi, syukur, & cara-cara positif untuk memperkuat pembelajaran

Ruang Lingkup 5 KSE
1. Kegiatan rutin (periodik)
2. Terintegrasi dalam pembelajaran
3. Protokol atau budaya sekolah

Keterkaitan pembelajaran berdiferensiasi dengan pembelajaran sosial emosional adalah bagaimana kita sebagai seorang guru memandang anak didik dari sudut pandang mereka dengan memperhatikan aspek-aspek pendukung seperti bakat, minat dan karakter anak didik. Disini dibutuhkan kemampuan guru yang profesional dalam mengontrol emosi dirinya dalam menghadapai berbagai permasalahan yang ada baik dalam hal peserta didik, rekan kerja dan lingkungan belajar lainnya. Dengan menerapkan kesadaran penuh tentunya akan dapat memperbaiki keadaan menjadi lebih nyaman dan menyenangkan sehingga dapat menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan berprestasi.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Terima kasih.

Jumat, 04 Maret 2022

Jurnal Refleksi - Minggu 11

Oleh Yuliani, S.Pd

Pengalaman saya mengikuti pembelajaran pada minggu ini yaitu mendapatkan Pendampingan Individu oleh Pengajar Praktik saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas yang saya ampu. Ini adalah kali pertama saya melakukan pembelajaran berdiferensiasi secara daring dengan peserta didik di kelas yang saya ampu tahun ini. 


Siswa mempresentasikan pemahamannya ke depan kelas

Saya juga mendapatkan pengalaman bagaimana mengontrol emosi melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional. Mencoba memahami dan menyelesaikan 5 kasus yang disajikan tentang keadaan seorang guru dengan permasalahan sehari-hari yang dihadapinya, baik dengan murid maupun dengan dirinya sendiri.

Hal baik yang saya alami dalam proses tersebut adalah keaktifan dan kerja sama yang baik dengan siswa dan wali siswa. Saya lebih berusaha untuk dapat mengontrol emosi dan berusaha memperbaiki diri untuk bersikap yang bijaksana dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi baik dalam PBM maupun dalam kehidupan sehari-hari. 

Sagoe Caroeng alias sudut pintar / sudut membaca bagi kelas 4

Hambatan atau kesulitan yang saya alami selama proses pembelajaran pada minggu ini adalah tidak semua siswa memiliki fasilitas yang mendukung pembelajaran secara daring. Kalaupun ada, mereka hanya memiliki Android dengan penguasaan GMeet yang masih sangat minim dan belum mampu mengerjakan tugas di Ms. Word atau powerpoint dengan Android yang belum mereka kuasai sepenuhnya. Yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut adalah memberi kesempatan pada siswa untuk menggunakan satu Android berdua atau bertiga dengan siswa yang berdekatan rumahnya. Kemudian saya meminta siswa untuk menyelesaikan tugas dalam di buku tulis masing-masing dan mengirim tugas dalam bentuk foto. 

Aktivitas Pembelajaran Berdiferensiasi secara daring

Sementara mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosional, Alhamdulillah karena sebelumnya saya telah menerapkan budaya positif yang telah kami sepakati melalui keyakinan kelas yang kami buat bersama, saya tidak menemui hambatan yang berarti. Insya Allah masih dapat saya kuasai. Karena penerapan "Disiplin dulu baru Ilmu" merupakan hal yang penting bagi saya terhadap para murid saya.

Perasaan saya selama pembelajaran berlangsung, sangat senang namun sedikit khawatir. Senang dengan antusias siswa untuk mengikuti pembelajaran secara daring, karena ini merupakan hal baru bagi mereka. Terlihat wajah-wajah gembira dapat berjumpa dengan teman-temannya melalui GMeet. Sementara yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas adalah bahagia, berkurang kecemasan akan target nilai yang tidak tercapai. Hal yang membuat saya merasakan kebahagiaan adalah melihat para siswa aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. 

Pelajaran yang saya dapatkan dari proses ini adalah bahwa tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai dengan kondisi yang menyenangkan. Siswa tidak merasa bosan dan cenderung mengganggu teman. Sebaliknya, mereka merasa senang dan aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Setelah pembelajaran sesi instruktur, saya memahami bahwa KKM setiap semester tidak harus naik, tetapi dapat ditentukan sesuai dengan kebuthan belajar murid. Jadi saya tidak perlu menetapkan target KKM yang tinggi, lalu sekedar mengejar ketercapaian penyampaian materi sehingga melupakan kodrat siswa. Melalui pembelajaran berdiferensiasi dengan Pembelajaran Sosial Emosional, disinilah saya dapat menerapkan student center dengan lebih baik.

Setelah proses ini, saya paham bahwa keberhasilan suatu pendidikan tergantung niat, kerja keras dan keikhlasan kita dalam menjadi fasilitator pendidikan yang menjadikan murid sebagai pusat belajar dengan senantiasa menyadari kodrat anak. Melakukan pemetaan kebutuhan murid sebelum membuat RPP sangat penting bagi pelaksanaan KBM yang bermutu. 

Hal yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan adalah dengan mempersiapkan administrasi mengajar dengan baik, terutama pada bagian KKM dan RPP yang mengedepankan kebutuhan belajar murid melalui pemetaan yang dapat saya ketahui melalui diagnosa awal pada para murid di kelas yang saya ampu. 

Bersama Kepala Sekolah, dewan guru dan Penngajar Praktik pada saat Pendampingan Individu

Setelah belajar dari peristiwa ini, saya akan melakukan aksi/tindakan pengembangan diri yang lebih baik lagi dalam memahami dan mengimplementasikan budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional dengan lebih baik pada kelas yang saya ampu. Dan saya juga mengajak para rekan guru untuk mau bergerak dengan menerapkan hal yang serupa agar mutu pendidikan dapat meningkat, baik dalam hal karakter siswa (sosial dan spiritual) maupun ketrampilan dan pengetahuannya.

Demikianlah yang dapat saya paparkan dalam jurnal refleksi minggu ini. Semoga dapat bermanfaat.

Terima kasih.