AKSI NYATA MODUL 3.3
PENGELOLAAN PROGRAM BERDAMPAK PADA MURID
Assalamu 'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Pada kesempatan kali ini, izinkan saya berbagi mengenai aksi nyata yang saya lakukan sesuai dengan Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid di SD Negeri 7 Nisam Kabupaten Aceh Utara.
Sagoe Caroeng Glah Peut (S-CGP)
A. Peristiwa (Fact)
1. Latar belakang tentang situasi yang dihadapi
Kondisi pembelajaran yang monoton, guru mengajar tanpa menggunakan media pembelajaran yang kreatif dan bervariatif serta kekurangmampuan guru dalam mengoperasikan komputer dan perangkat pembelajaran digital telah menyebabkan kejenuhan pada diri murid dalam mengikuti pembelajaran, sehingga mereka tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, cenderung ribut dan mengganggu kegiatan belajar. Keadaan ini tentunya merupakan sebuah tantangan bagi dunia pendidikan dalam memasuki era revolusi industri 4.0 yang menuntut generasi saat ini mampu berkolaborasi dengan perangkat digital.
Hal lain yang melatarbelakangi lahirnya Sagoe Caroeng Glah Peut (S-CGP) yaitu sebagai perkenalan dan pembiasaan bagi murid dalam mengikuti pembelajaran berbasis IT. Pada kelas V nantinya, mereka akan mengikuti kegiatan Asesmen Nasional (AN) sebagai pengganti Ujian Nasional. Walaupun AN tidak menentukan kelulusan, namun penilaian AN bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan informasi akurat. Melalui S-CGP ini, kegiatan pembelajaran akan memberikan dampak positif dan mencapai target yang diharapkan karena melalui S-CGP ini, kegiatan pembelajarannya tidak terlalu kaku namun berbobot.
Melalui intrakurikuler Sagoe Caroeng Glah Peut (S-CGP) sebagai sudut belajar bagi murid untuk menemukan dan mengembangkan ide yang dimilikinya kemudian mensosialisasikan dan menjalankannya bersama murid lain dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia sehingga mereka mampu membuat keputusan, pilihan atau memberikan pendapat terkait proses belajar mereka. Disediakan sebuah laptop dan beberapa tablet yang terkoneksi dengan internet sebagai media belajar digital bagi murid. Keadaan ini akan membawa murid pada pembelajaran yang lebih menarik, bermakna dan menyenangkan.
Pada S-CGP memunculkan 1) voice, dimana murid menemukan dan mengemukakan ide-ide, 2) choice, yaitu murid memilih kegiatan dan langkah-langkah kegiatan untuk menjalankan ide-ide mereka dan 3) ownership, disini murid sebagai pemilik kegiatan tentunya akan menjalankan ide-ide tersebut dengan lebih aktif, kreatif, bijaksana dan bertanggung jawab sehingga berjalan proses dan hasil pembelajaran lebih bermakna.
Guru bekerja sama dengan orang tua murid dalam membangun suasana kekeluargaan yang nyaman di sekolah sebagaimana konsep pendidikan Bapak KHD, “Sesungguhnya alam-keluarga itu bukannya pusat pendidikan individual saja, akan tetapi juga suatu pusat untuk melakukan pendidikan sosial. Orangtua harus melakukan pendidikan bersama dengan pusat-pusat pendidikan, dan terhubung dengan kaum guru dan pengajar [Ki Hadjar Dewantara dalam Wasita, Tahun ke-1 No.3, Mei 1993]” Peran orang tua sangat penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Selain mereka mendidik anak-anaknya dirumah, kita sediakan ruang dan waktu bagi mereka untuk dapat berbagi pengalaman dan pemahaman baik tentang mendidik anak sebagaimana filosofi Bapak KHD.
Hal tersebut sesuai dengan tuntunan dari Baginda Rasulullah yang telah mengajarkan kepada kita bagaimana menerapkan pola pendidikan anak. Permasalahan orang tua dalam mendidik anak, bukanlah perkara yang sepele. Apalagi di zaman yang serba canggih seperti saat ini, jika tidak dibarengi dengan penanaman Iman dan Taqwa dalam diri orang tua dan anak, maka tidak menutup kemungkinan ia akan tergerus keadaan yang dapat menjerumuskannya kepada hal-hal yang negatif. Sebagaimana hadist nabi yang disampaikan melalui HR Muslim, yang mengatakan "Tidaklah seorang bayi yg dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah, maka bapaknyalah yg menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Musyrik." Orangtua memiliki kewajiban dalam mendidik anak-anaknya untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sang anak sejak dini. Pendidikan Islam yang saya maksud disini yaitu pendidikan yang sesuai dengan ajaran yang terkandung dalam Alqur’an dan hadits. Orang tua dapat memberikan contoh melalui teladan sikap dan karakter di rumah, memberi nasihat dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik. Orang tua wajib memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya dan turut berkolaborasi dengan guru dalam hal tersebut. Di sekolah, guru bertindak sebagai orang tua dan sebagai Fasilitator, yang memfasilitasi dan memantau kegiatan murid. Hal ini sejalan dengan Filosofi Bapak KHD yaitu, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Mengkomunikasikan kegiatan pembelajaran bersama wali murid
2. Program Sagoe Caroeng Glah Peut
Visi
Menumbuhkan kepemimpinan murid.
Tujuan
Melalui Sagoe Caroeng Glah Peut, murid dapat mengekspresikan minat dan bakatnya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran secara aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga tumbuh jiwa kepemimpinan murid.
3. Alasan melaksanakan Aksi S-CGP
Hal yang mendasari mengapa saya memilih untuk melaksanakan Aksi S-CGP adalah untuk menciptakan lingkungan kelas sebagai tempat belajar yang nyaman, santai namun kreatif dan imajinatif. Selain itu, hal ini juga sebagai sebuah persiapan bagi murid dalam mengikuti Asesmen Nasional di Kelas V nantinya. Melalui S-CGP, selain sebagai salah satu wahana literasi juga sebagai arena belajar IT. Disini murid diberi kesempatan untuk duduk mencari informasi tentang materi pembelajaran secara mandiri melalui bahan bacaan yang disediakan baik dalam bentuk cetak maupun digital. Lalu murid duduk di lantai kelas untuk berdikusi bersama teman-temannya lalu memutuskan langkah-langkah yang akan mereka laksanakan untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka bahas. Karena hal ini dilakukan langsung oleh murid, maka diharapkan murid lebih bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas mereka secara aktif, kreatif dan penuh disiplin.
Kegiatan makan bersama sebagai penutup pembelajaran
4. Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan
Sebuah tindakan pasti akam menghasilkan sesuatu. Demikian pula halnya dengan Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid yang saya lakukan. Awalnya ada murid yang kurang aktif dan sering bolos sekolah. Lalu saya memanggil beberapa wali muris untuk mendiskusikan permaslaahan tersebut dan mereka sangat mendukung program S-CGP. Alhamdulillah, murid-murid senang dan sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Proses pembelajaran berjalan dengan aktif dan menyenangkan sehingga mampu meningkatkan hasil pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan. Murid menikmati proses pembelajaran, aset-aset yang terdapat di sekolah, kami manfaatkan untuk pengelolaan dan pelaksanaan pembelajaran.
Dengan adanya pembelajaran digital, pembelajaran berbasis IT melalui S-CGP dengan pemanfaatan Tablet Inventaris Sekolah, murid-murid belajar bagaimana mencari informasi melalui laman searching google dan mereka juga belajar bagaimana belajar secara daring dengan menggunakan zoom dan Gmeet. Kendala yang ditemui saat murid belajar dirumah adalah tidak semua murid dapat belajar dari rumah dengan fasilitas Android dan internet pribadi, Hal ini tidak menjadi sebuah halangan bagi murid-murid untuk terus belajar. Mereka sudah mengerti bagaimana mengikuti pembelajaran daring dan bagi murid yang tidak memiliki fasilitas tersebut, mereka dapat menggunakan satu Android secara bersama, kurang lebih 3 hingga 4 orang murid di rumah murid.
Kegiatan pembelajaran daring
Murid mengisi kuesioner tentang respon terhadap kegiatan pembelajaran
B. Perasaan (Feeling)
Alhamdulillah setelah mengikuti kegiatan Pelatihan Guru Penggerak sejak minggu ke dua bulan Oktober tahun 2021, selain merasakan lelahnya menuntut ilmu, saya merasa senang dan bersemangat karena telah mendapatkan banyak pengalaman dan pemahaman. Sejalan dengan perubahan paradigma, maka saya telah merubah pemikiran, tindakan dan sikap saya terhadap proses pembelajaran. Terutama pada Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak pada Murid, saya mulai berpikir untuk dapat memanfaatkan semua aspek sumber daya yang terdapat di kelas dan sekolah tempat saya bertugas. Hal ini bertujuan agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan serta mendukung kemajuan proses pembelajaran sehingga akan berdampak positif bagi mutu murid, guru dan sekolah kami.
Adanya motivasi dari sesama rekan Calon Guru Penggerak, Pengajar Praktik serta Fasilitator membuat saya semakin bersemangat untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita kami yang tertuang dalam Visi dan Tujuan kami.
C. Pembelajaran (Finding)
Setelah mengikuti kegiatan Pelatihan Guru Penggerak, sesuai dengan alur MERRDEKA (Mulai dari diri, Eksplosi Konsep, Elaborasi Terbimbing, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata) sangat banyak hal-hal baru yang saya temukan dan dapat saya implementasikan terhadap pembelajaran yang saya ampu. Saya juga dapat berbagi praktik baik bersama para rekan guru baik dalam satu sekolah, maupun dari sekolah lain. Diantaranya adalah bagaimana melaksanakan pembelajaran baik intrakurikuer, kokurikuler maupun ekstrakurikuler dengan menerapkan prinsip Voice, Chooice dan Ownership. Disini juga saya mendapatkan pemikiran baru yaitu bagaimana memandang semua aspek, yang sebelumnya saya terbiasa dengan menyebutnya sebagai analisis SWOT, kini saya memandang keempat aspek tersebut sebagai sebuah kekuatan yang akan memberi kolaborasi penting dalam mencapai keberhasilan program pembelajaram baik intrakurikuer, kokurikuler maupun ekstrakurikuler yang kami jalankan.
Kita dapat mendorong kepemimpinan murid untuk dapat mengambil kepemilikan dan tanggung jawab atas proses pembelajaran mereka sendiri. murid memiliki suara dan pilihan atas apa yang akan mereka pelajari, bagaimana mereka belajar dan mengorganisir pembelajaran mereka dan murid dapat memilih arah dan cara mencapai tujuan pembelajaran sendiri
D. Penerapan ke Depan (Future)
Merujuk dari pemaparan saya diatas, ke depan saya akan terus mengimplementasikan ilmu-ilmu baru yang berpotensi mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Sebagai seorang guru penggerak, sudah selayaknya saya harus senantiasa update diri agar dapat memenuhi tuntutan zaman agar dapat mencetak generasi yang religius, bekerja keras, jujur, disiplin, berani dan bertanggung jawab.
Letak keberhasilan Negara Indonesia di masa mendatang berada di bahu generasi saat ini yang bukan hanya dituntut cerdas pengetahuan semata, namun juga cerdas dalam karakter dan kepribadian yang menunjukkan karakter Profil Pelajar Pancasila. Melalui pengelolaan program yang berdampak pada murid oleh guru secara baik dan membutuhkan kerja keras dan kesabaran, akan menumbuhkan karakter positif dalam diri murid.
Demikianlah pengalaman yang dapat saya bagikan melalui tulisan pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat.
Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak Indonesia Maju.
Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.