Suasana hujan mengiringi pertemuan ke sembilan Belajar Menulis Gelombang 17 bersama Pak Cip sebagai moderator dan Ibu Ditta Widya Utami sebagai narasumber. Dengan penuh kerendahan hati, beliau mengatakan, “Jika bukan karena Omjay yang meminta, tentu di antara Bapak/Ibu ada yang lebih layak menjadi narasumber malam ini. Namun, sebagai wujud bakti murid kepada gurunya, izinkan malam ini saya membersamai Bapak dan Ibu sekalian 😊🙏🏻”.
Untuk menjadi seorang
penulis andal, selain mengetahui teknik menulis, penting bagi kita untuk
memiliki mental yang kuat dan sehat.
Jika kita tengok kisah
beberapa penulis tersohor baik di dalam maupun di luar negeri, ternyata banyak
yang harus jatuh bangun ketika memulai karirnya sebagai seorang penulis. Namun,
karena mereka (salah satu faktornya) memiliki mental yang kuat, mereka bisa
bangkit kembali dan akhirnya meraih kesuksesan.
Jadi, mental yang saya
maksud di sini lebih kepada sebuah cara berpikir untuk dapat belajar dan
merespons suatu hal. Sebagaimana yang dilakukan para penulis hebat dalam
menghadapi setiap tantangan.
Bu Ditta menorehkan
beberapa tulisannya pada https://www.kompasiana.com/ditta13718
dan https://dittawidyautami.blogspot.com
. Beliau juga pernah membuat tulisan pendek berjudul Djogja Backpacker di
storial.com https://www.storial.co/book/djogja-backpacker
Ada juga yang di Wattpad
seperti Precious https://www.wattpad.com/480692862-precious-1-terdampar-di-upi
dan "Mengapa Tak
Kau Tanyakan Saja" di https://www.wattpad.com/794784777-mengapa-tak-kau-tanyakan-saja-tamat-mengapa-tak
MENTAL
SEORANG PENULIS
1. Siap Konsisten
"Teruslah menulis
setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." (Omjay)
Satu kutipan di atas
sebetulnya sudah cukup menjadi bekal untuk kita sebagai penulis pemula.
Jika kita sudah berniat
untuk meningkatkan skill menulis, maka kita harus ingat bahwa menulis adalah
sebuah kata kerja. Artinya, harus ada tindakan nyata.
Saat ini banyak sekali
platform untuk menulis yang bisa kita manfaatkan. Contohnya seperti yang saya
share. Tapi mungkin masih ada yang menulis seperti Soe Hoek Gie. Dari buku
catatan kemudian lahir sebuah buku. Atau seperti RA Kartini dari surat-suratnya
juga lahir sebuah buku.
Semua orang mungkin
bisa menulis. Tapi, untuk jadi penulis andal, butuh mental kuat agar bisa
konsisten menulis. Salah satu tips agar bisa memiliki mental untuk konsisten
adalah dengan mengenali diri sendiri. Sehingga tantangan apa pun yang
menghadang, kita akan tau apa yang harus kita lakukan.
2. Siap Dikritik
Bapak/Ibu yang bahagia
hatinya, saat kita memutuskan untuk memublikasikan hasil tulisan kita di
blog/buku/media sosial/media massa, dsb, maka penting kita sadari bahwa tulisan
kita telah menjadi "milik publik".
Dengan demikian, kita
harus menyiapkan mental untuk menerima masukan dari publik. Tak hanya bersiap
untuk komentar baik, kita pun harus bersiap bila ternyata ada yang mengkritik
dengan cukup tajam atas tulisan kita.
Dengan adanya
masukan/kritik dari berbagai pihak, kita bisa mengetahui kekurangan dalam
tulisan kita. Bukan hanya dari kacamata sendiri, tapi juga dari kacamata
pembaca.
3. Siap Belajar
Jika sudah senang dan
konsisten menulis, sudah bisa menerima saran maupun kritik, maka sungguh kita
memiliki mental untuk belajar bertumbuh.
Ada dua cara yang dapat
ditempuh :
a. Melakukan riset
Salah satu cara untuk
meningkatkan kualitas tulisan adalah dengan melakukan riset. Bisa dengan
berkunjung ke perpustakaan, berkunjung ke toko buku untuk mengamati buku-buku
best seller, melacak apa yang sedang menjadi trend di sosial media maupun
dengan google traffic, dsb.
b. Tambah Bacaan
Saat ini, dimana
literasi begitu digaungkan, maka kita harus menyiapkan mental untuk siap
menjadi orang yang literat. Salah satunya dengan meningkatkan daya baca.
Daya baca berbeda
dengan minat baca. Berikut tulisan saya tentang daya baca…
4. Siap Ditolak
Mental berikutnya yang
perlu kita sadari adalah siap ditolak oleh media maupun penerbit, dll.
Saat naskah kita
ditolak, coba lagi dan lagi. Atau cari alternatif lain. Misal dengan
menerbitkan sendiri atau dipublish di berbagai media sosial.
JK Rowling pernah
ditolak belasan penerbit. Dewi "Dee" Lestari sang penulis Supernova
pun pernah merasakan ditolak penerbit. Bahkan sekelas novelis horor Stephen
King pun pernah ditolak.
Bayangkan, jika mereka
berhenti berjuang saat ditolak penerbit satu dua kali, mungkin saat ini kita
tidak akan mengenal karya karya hebat mereka.
5. Siap Menjadi
"Unik"
The last but not least.
Mental yang perlu kita tanamkan untuk menjadi penulis adalah just be yourself.
Jadilah diri sendiri. Jadilah unik.
Maksudnya dalam menulis
nggak perlu terlalu ikut-ikutan seperti orang kebanyakan. Tulis saja apa yang
paling kita sukai. Yang paling sesuai dengan diri kita.
Omjay misalnya selalu
unik dengan tulisan setiap harinya. Mr. Bams unik dengan kalimat-kalimat
positifnya. Dan Bu Kanjeng yang unik dengan gaya bahasanya yang begitu hidup.
Tengok blog atau buku
Raditya Dika, isinya pasti humor. Jika membaca buku-buku Justin Gaarder
(penulis Dunia Sophie), jangan heran jika terselip unsur filsafat. Karena
basicnya beliau memang pernah jadi guru filsafat sebelum menjadi penulis.
Nah, apa yang unik
dalam diri kita? Mari kita tuangkan dalam bentuk tulisan.
Jadilah penulis jujur
yang apa adanya dan ada apanya. Tidak dibuat-buat/dipaksakan (apa adanya) namun
tetap berbobot (ada apanya). *Yang kedua bisa kita tingkatkan dengan terus
berlatih menulis dan membaca.
Sekitar pukul 20.00
WIB, Bu Ditta mengakhiri materinya dan memberi kesempatan pada para peserta
untuk bertanya dengan mengembalikan kendali acar pada Pak Cip.
Cara memunculkan ide
dan kreatifitas yang beda dengan yang lain sehingga dapat membranding diri
menjadi unik adalah dengan terus berlatih membaca dan manulis. Ada catatan jika
kita ingin belajar menulis melalui membaca. Membaca bisa menambah kosa kata,
wawasan, dsb sehingga akan banyak ide bermunculan. Jangan gunakan teknik
membaca cepat. Pelajari tata bahasa yang digunakan. Pemilihan kosa kata dan
sebagainya. Cerna. Tapi yang terpenting tetap gunakan gaya bahasa kita sendiri.
Menulis resume
pelatihan belajar menulis ini pun sesungguhnya melatih kita untuk menjadi unik.
Karena setiap orang mendapat materi yang sama, namun harus membahasakan dengan
gaya masing-masing sehingga menjadi lebih segar dan unik.
Tips untuk konsisten
menulis itu bisa banyaaak sekali, antara lain :
- Tentukan niat menulis, misal untuk berbagi kebaikan, untuk memoar perjalanan hidup, untuk mencicil agar nanti bisa dibukukan, dsb.
- Agar tidak kena writer's block dan tetap konsisten menulis, maka tulis apa pun yang kita sukai. Walau sederhana dan walau hanya beberapa paragraf saja.
Kita ini manusia biasa.
Membuat semua orang menyukai kita, menyukai tulisan kita, adalah hal yang boleh
jadi mustahil. Kita tidak bisa mengontrol siapa yang suka dan tidak terhadap
tulisan kita. Tapi, kita bisa mengontrol bagaimana respons kita dalam
menyikapinya. Jika Ibu ingin tulisan banyak dibaca silakan cari tema yang
sedang tren di masyarakat. Bisa juga dengan cari di google traffic apa saja
yang ramai dibicarakan. Atau buka sosial media, biasanya kita juga bisa tau apa
yang ramai dibicarakan. Lalu buat tulisan tentang itu. Tips lainnya buatlah
judul yang menarik.
Seringkali beberapa
tulisan tidak tuntas karena tergoda menulis yang lain. Tips agar kita tidak
gampang tergoda yang lain yaitu sebelum bisa menuntaskan satu tulisan, buat
beberapa draft dengan sebanyak tema ide yang muncul. Lalu buat outlinenya. Bisa
beberapa kata kunci dari setiap tema. Lebih bagus kalau kalimat kalimat pokok
yang dituliskan. Hal ini bisa membantu kita untuk menulis beberapa tema
sekaligus. Jika tidak ada outline, biasanya (saya sih) lupa kelanjutannya harus
bagaimana. Sungguh, outline itu sangat membantu.
Tahukah Anda mengapa saya senang ada blog? Karena tidak ada aturan baku di blog!
Blog kita ya milik kita. Kontennya mau bagaimana terserah kita. Isinya mau apa, terserah kita. Tulisannya mau bagaimana? Juga terserah kita.
Bebas. Merdeka.
Tapi ... Nah tentu kita harus pandai menempatkan diri. Tidak mungkin kan, menulis artikel (katakanlah untuk surat kabar provinsi) kita gunakan bahasa seenak kita? Kita harus cermati bahasa seperti apa yang digunakan media tersebut.
Dalam jurnal atau artikel ilmiah ada aturannya. Menulis ke penerbit mayor, juga usahakan sudah sesuai PUEBI agar memudahkan proses seleksi dan editing.
So, menurut saya tidak masalah selama kita tahu dimana kita menulis 😊🙏🏻
Demikianlah resume malam ini. Semoga bermanfaat!


kreeen ..tulisannya. semangaat
BalasHapusMantap...
BalasHapus🙂
HapusMantap
BalasHapus🙂
HapusMasyaAllah, tulisan yang luar biasa, enak dibacnya. semangat berkarya, semangat ,menginspirasi
BalasHapusMakasih support nya pak
HapusWaah sama dengan yang lainnya mantul juga, gercep namun ttp tulisannya berbobot dan enak tuk dibaca. Lanjutkan !
BalasHapusTerimakasih Pak.
HapusSip. Terima kasih sudah membuat resumenya. Sedikit saran, akan lebih baik tentunya bila dibahasakan dengan bahasa kita sendiri sehingga menjadi lebih "unik" 😊 saya yakin, Ibu Bisa! Semangatttt
BalasHapusTerimakasih masukkan ya Bu Ditta. Akan saya coba perbaiki.
HapusBagus Bu Ully, si biru jadi bikin betah
BalasHapusHehehe, makasih pak
HapusMantap bu...saran sedikit bu...ada beberapa tulisan beda dengan yang lain...akan terlihat lebih rapi kalau disamakan...tetap semangat bu
BalasHapusYa Pak. Terimakasih masukkannya. Makin semangat
Hapus