Oleh Yuliani, S.Pd
Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan tentang koneksi antar materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran.
Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
- Ing ngarso sung tuladho, bermakna bahwa seorang guru menjadi teladan bagi muridnya. Sehubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin pembelajaran, dalam mengambil keputusan, hendaknya guru dapat dijadikan panutan dalam mengambil sebuah keputusan yang bijaksana, tepat, adil dan yang pasti adalah keputusan tersebut merupakan keputusan yang berpihak pada murid.
- Ing madya mangun karsa, bermakna bahwa seorang guru menjalin komunikasi yang baik dengan muridnya. Sehubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin pembelajaran, maka seorang guru harus mampu menggali dan melejitkan karsa (kekuatan) para murid dan lingkungannya.
- Tut wuri handayani, bermakna bahwa peran guru sebagai motor penggerak yang memotivasi serta mendorong semangat muridnya agar berkembang sesuai minat, bakat dan potensi masing-masing. Sehubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin pembelajaran, maka sudah selayaknya bagi seorang guru agar mampu memberikan motivasi kepada para murid dan lingkungannya untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang mereka miliki.
Dalam hal ini, seorang pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan dengan kesadaran penuh(mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila dan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, positif dan kondusif (well being).
Nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orang tua dan leluhur sehingga melekat erat dalam diri kita, tentunya sangat berpengaruh dan memberikan dampak terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Identifikasi terlebih dahulu, permasalahan yang sedang kita hadapi tersebut, apakah merupakan sebuah dilema etika atau bujukan moral. Seorang guru yang memiliki empati yang tinggi, rasa kasih sayang dan kepedulian cenderung akan memilih prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Sementara guru yang tertanam sikap disiplin tinggi, jujur dan berkomitmen tentunya cenderung untuk tunduk pada peraturan yang ada, maka ia memiliki kecendrungan menggunakan prinsip Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking). Sedangkan guru yang reflektif dan berhati-hati cenderung berprinsip Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking). Selama permasalahan tersebut merupkan dilema etika, tidak ada yang salah dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan ke tiga prinsip ini. Masing-masing prisip memiliki kelebihan dan kekurangan. Disinilah peran guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran untuk mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana dengan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Kegiatan terbimbing yang saya lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil melalui penyelesaian studi kasus. Materi pengambilan keputusan memiliki keterkaitan erat dengan kegiatan ‘coaching’ yang pernah dipelajari pada modul sebelumnya. Pada kegiatan coaching, seorang coach membantu agar coachee untuk menggali dan melejitkan potensi yang dimilikinya sehingga ia mampu membuat keputusannya secara mandiri. Pada modul ini seorang guru harus mampu menjadi coach sekaligus coachee bagi dirinya sendiri dengan melakukan refleksi apakah keputusan yang diambil menjadi win-win solution bagi pembuat keputusan, atau keputusan yang diambil merupakan sebuah keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, ataukah keputusan tersebut memiliki potensi timbulnya permasalahan baru di kemudian hari.
Pengambilan keputusan tersebut telah efektif, namun masih ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri saya atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya. Dalam hal ini, saya terus merefleksi hal-hal apa yang terjadi, yang saya hadapi dan apa yang saya lakukan sebagai tahap penyelesaian masalah yang terjadi. Melalui penerapan konsep TIRTA pada kegiatan coaching, CGP dapat mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dan membuat pemecahan masalah secara tepat dan terstruktur dengan baik. Pengkombinasian konsep TIRTA dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai refleksi dan evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil, merupakan sebuah perpadun yang sangat ideal.
Pada Modul 3.1, kami para CGP diberikan pemahaman tentang 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga CGP yang nantinya akan menjadi seorang pemimpin pembelajaran akan mampu mengambil keputusan yang adil, tepat dan bijaksana.
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya tentunya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.
Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik tentu akan dihadapkan pada situasi / permasalahan yang mengandung unsur dilema etika atau bujukan moral yang terjadi di lingkungan sekolah tempatnya bekerja. Melalui latihan-latihan pada studi kasus pada modul ini yang berupa contoh fakta-fakta yang kerap terjadi dan mungkin saja hal ini merupakan sebuah pengalaman pribadi CGP. Latihan menyelesaikan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika, diperlukan kesadaran diri (self awareness) dan keterampilan berinteraksi dengan lingkungan. Kegiatan ini memberikan pemahaman tentang rambu-rambu yang dapat dijadikan pedoman sehingga jika suatu saat terjebak dalam situasi yang sama, diharapkan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, CGP akan dapat bertindak secara bijak melalui paradigma, prinsip, dan langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan sebagai upaya perbaikan diri. CGP harus dapat mengidentifikasi apakah permasalahan yang terjadi merupakan dilema etika atau bujukan moral. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, apabila dihadapkan pada permasalahan yang merupakan bujukan moral maka dengan tegas kita harus mampu menolak dan kembali ke nilai-nilai kebajikan dan taat pada peraturan yang telah ditetapkan.
Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Seorang pemimpin pembelajaran yang mengambil keputusan yang tepat, akan menjadikan dirinya sebagai seorang panutan yang lebih disayangi, disegani dan dihormati. Kebijakan-kebijakan yang diambilnya melalui keputusan yang diambil dan ditetapkannya akan dipatuhi dan ditaati oleh orang-orang yang dipimpinnya dan akan memberi dampak menuju perubahan positif (kemajuan) pada lingkungan belajar, warga sekolah, sekolah tempatnya bertugas.
Kesulitan-kesulitan di lingkungan saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini antara lain adalah mengubah paradigma yang telah berakar pada para warga sekolah sehingga menjadi sebuah budaya dan kebiasaan. Melakukan sebuah perubahan selain membutuhkan kemauan, kemampuan dan usaha yang maksimal, juga membutuhkan waktu. Dalam mengambil keputusan, masih di lingkungan sekolah saya, masih mempertimbangkan adat istiadat serta kebiasaan masyarakat setempat.
Dan pada akhirnya, pengaruh pengambilan keputusan yang saya ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid saya adalah membuat kesepakatan kelas melalui penerapan budaya positif dengan memberi kesempatan pada setiap murid untuk mengemukakan saran dan pendapatnya, kemudian meluruskan jika masih ada kesalahpemahaman. Membiasakan para murid untuk mau bercerita dan mengemukakan permasalahannya dengan menyiapkan waktu secara khusus sebagai kegiatan coaching. Murid memiliki kebebasan untuk mencapai kodrat alamnya untuk melejitkan potensi yang dimilikinya tanpa perlu merasa malu, takut atau tertekan dengan pihak dan keadaan apapun.
Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Guru merupakan pendidik sekaligus pemimpin pembelajaran bagaikan seorang petani yang menyemai benih agar dapat tumbuh subur dengan perawatan yang baik. Seorang guru bertanggungjawab untuk menumbuhkembangkan potensi yang dimiliki murid sehingga setiap keputusan guru akan berdampak pada pola pikir, sikap dan kebiasaan sehingga hal ini akan memberikan pengaruh besar pada perkembangan masa depan murid. Setiap keputusan yang tepat dan bijak tentu membuat murid tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkompetensi, berkarakter dan mampu melejitkan minat, bakat dan potensi dalam diri mereka.
Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya :
- Karakter dan nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri seseorang akan memberi pengaruh pada keputusan yang diambil. Memahami dan mengimplementasikan filosofi Pratap Triloka Bapak Ki Hajar Dewantara, akan memberi pedoman bagaimana mengambil keputusan yang berpihak pada anak.
- Pengambilan keputusan dapat diaktualisasikan melalui budaya positif yang akan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, positif dan kondusif (well being) sehingga menumbuhkan profil pelajar pancasila.
- Sebagai upaya mengembangkan profil pelajar pancasila demi terwujudnya merdeka belajar sehingga berdampak positif bagi masa depan anak, maka dalam menghadapi permasalahan dilema etika dan bujukan moral, seorang pemimpin pembelajaran perlu menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, mohon kritik dan saran yang dapat memberi kontribusi positif bagi tulisan saya ke depan. Terima kasih.
Salam Guru Penggerak, guru Bergerak, Indonesia Maju.
Wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
