Minggu, 24 April 2022

3.1.a.9 Koneksi Antar Materi

Oleh Yuliani, S.Pd


Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan tentang koneksi antar materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran.  

Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Ing ngarso sung tuladho, bermakna bahwa seorang guru menjadi teladan bagi muridnya. Sehubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin pembelajaran, dalam mengambil keputusan, hendaknya guru dapat dijadikan panutan dalam mengambil sebuah keputusan yang bijaksana, tepat, adil dan yang pasti adalah keputusan tersebut merupakan keputusan yang berpihak pada murid.
  2. Ing madya mangun karsa, bermakna bahwa seorang guru menjalin komunikasi yang baik dengan muridnya. Sehubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin pembelajaran, maka seorang guru harus mampu menggali dan melejitkan karsa (kekuatan) para murid dan lingkungannya. 
  3. Tut wuri handayani, bermakna bahwa peran guru sebagai motor penggerak yang memotivasi serta mendorong semangat muridnya agar berkembang sesuai minat, bakat dan potensi masing-masing. Sehubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin pembelajaran, maka sudah selayaknya bagi seorang guru agar mampu memberikan motivasi kepada para murid dan lingkungannya untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang mereka miliki. 

Dalam hal ini, seorang pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan dengan  kesadaran penuh(mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila dan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, positif dan kondusif (well being).

Nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orang tua dan leluhur sehingga melekat erat dalam diri kita, tentunya sangat berpengaruh dan memberikan dampak terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Identifikasi terlebih dahulu, permasalahan yang sedang kita hadapi tersebut, apakah merupakan sebuah dilema etika atau bujukan moral. Seorang guru yang memiliki empati yang tinggi, rasa kasih sayang dan kepedulian cenderung akan memilih prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Sementara guru yang tertanam sikap disiplin tinggi, jujur dan berkomitmen tentunya cenderung untuk tunduk pada peraturan yang ada, maka ia memiliki kecendrungan menggunakan prinsip Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking). Sedangkan guru yang reflektif dan berhati-hati cenderung berprinsip Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking). Selama permasalahan tersebut merupkan dilema etika, tidak ada yang salah dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan ke tiga prinsip ini. Masing-masing prisip memiliki kelebihan dan kekurangan. Disinilah peran guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran untuk mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana dengan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 



Kegiatan terbimbing yang saya lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil melalui penyelesaian studi kasus. Materi pengambilan keputusan memiliki keterkaitan erat dengan kegiatan ‘coaching’ yang pernah dipelajari pada modul sebelumnya. Pada kegiatan coaching, seorang coach membantu agar coachee untuk menggali dan melejitkan potensi yang dimilikinya sehingga ia mampu membuat keputusannya secara mandiri. Pada modul ini seorang guru harus mampu menjadi coach sekaligus coachee bagi dirinya sendiri dengan melakukan refleksi apakah keputusan yang diambil menjadi win-win solution bagi pembuat keputusan, atau keputusan yang diambil merupakan sebuah keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, ataukah keputusan tersebut memiliki potensi timbulnya permasalahan baru di kemudian hari. 

Pengambilan keputusan tersebut telah efektif, namun masih ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri saya atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya. Dalam hal ini, saya terus merefleksi hal-hal apa yang terjadi, yang saya hadapi dan apa yang saya lakukan sebagai tahap penyelesaian masalah yang terjadi. Melalui penerapan konsep TIRTA pada kegiatan coaching, CGP dapat mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dan membuat pemecahan masalah secara tepat dan terstruktur dengan baik. Pengkombinasian  konsep TIRTA dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai refleksi dan evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil, merupakan sebuah perpadun yang sangat ideal.

Pada Modul 3.1, kami para CGP diberikan pemahaman tentang 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga CGP yang nantinya akan menjadi seorang pemimpin pembelajaran akan mampu mengambil keputusan yang adil, tepat dan bijaksana.

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya tentunya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik tentu akan dihadapkan pada situasi / permasalahan yang mengandung unsur dilema etika atau bujukan moral yang terjadi di lingkungan sekolah tempatnya bekerja. Melalui latihan-latihan pada studi kasus pada modul ini yang berupa contoh fakta-fakta yang kerap terjadi dan mungkin saja hal ini merupakan sebuah pengalaman pribadi CGP. Latihan menyelesaikan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika, diperlukan kesadaran diri (self awareness) dan keterampilan berinteraksi dengan lingkungan. Kegiatan ini memberikan pemahaman tentang rambu-rambu yang dapat dijadikan pedoman sehingga jika suatu saat terjebak dalam situasi yang sama, diharapkan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, CGP akan dapat bertindak secara bijak melalui paradigma, prinsip, dan langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan sebagai upaya perbaikan diri. CGP harus dapat mengidentifikasi apakah permasalahan yang terjadi merupakan dilema etika atau bujukan moral. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, apabila dihadapkan pada permasalahan yang merupakan bujukan moral maka dengan tegas kita harus mampu menolak dan kembali ke nilai-nilai kebajikan dan taat pada peraturan yang telah ditetapkan. 

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Seorang pemimpin pembelajaran yang mengambil keputusan yang tepat, akan menjadikan dirinya sebagai seorang panutan yang lebih disayangi, disegani dan dihormati. Kebijakan-kebijakan yang diambilnya melalui keputusan yang diambil dan ditetapkannya akan dipatuhi dan ditaati oleh orang-orang yang dipimpinnya dan akan memberi dampak menuju perubahan positif (kemajuan) pada lingkungan belajar, warga sekolah, sekolah tempatnya bertugas.

Kesulitan-kesulitan di lingkungan saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini antara lain adalah mengubah paradigma yang telah berakar pada para warga sekolah sehingga menjadi sebuah budaya dan kebiasaan. Melakukan sebuah perubahan selain membutuhkan kemauan, kemampuan dan usaha yang maksimal, juga membutuhkan waktu. Dalam mengambil keputusan, masih di lingkungan sekolah saya, masih mempertimbangkan adat istiadat serta kebiasaan masyarakat setempat.

Dan pada akhirnya, pengaruh pengambilan keputusan yang saya ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid saya adalah membuat kesepakatan kelas melalui penerapan budaya positif dengan memberi kesempatan pada setiap murid untuk mengemukakan saran dan pendapatnya, kemudian meluruskan jika masih ada kesalahpemahaman. Membiasakan para murid untuk mau bercerita dan mengemukakan permasalahannya dengan menyiapkan waktu secara khusus sebagai kegiatan coaching. Murid memiliki kebebasan untuk mencapai kodrat alamnya untuk melejitkan potensi yang dimilikinya tanpa perlu merasa malu, takut atau tertekan dengan pihak dan keadaan apapun.

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Guru merupakan pendidik sekaligus pemimpin pembelajaran bagaikan seorang petani yang menyemai benih agar dapat tumbuh subur dengan perawatan yang baik. Seorang guru bertanggungjawab untuk menumbuhkembangkan potensi yang dimiliki murid sehingga setiap keputusan guru akan berdampak pada pola pikir, sikap dan kebiasaan sehingga hal ini akan memberikan pengaruh besar pada perkembangan masa depan murid. Setiap keputusan yang tepat dan bijak tentu membuat murid tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkompetensi, berkarakter dan mampu melejitkan minat, bakat dan potensi dalam diri mereka.

Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya :

  1. Karakter dan nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri seseorang akan memberi pengaruh pada keputusan yang diambil. Memahami dan mengimplementasikan filosofi Pratap Triloka Bapak Ki Hajar Dewantara, akan memberi pedoman bagaimana mengambil keputusan yang berpihak pada anak.
  2. Pengambilan keputusan dapat diaktualisasikan melalui budaya positif yang akan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, positif dan kondusif (well being) sehingga menumbuhkan profil pelajar pancasila.
  3. Sebagai upaya mengembangkan profil pelajar pancasila demi terwujudnya merdeka belajar sehingga berdampak positif bagi masa depan anak, maka dalam menghadapi permasalahan dilema etika dan bujukan moral, seorang pemimpin pembelajaran perlu menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, mohon kritik dan saran yang dapat memberi kontribusi positif bagi tulisan saya ke depan. Terima kasih.

Salam Guru Penggerak, guru Bergerak, Indonesia Maju.

Wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh


Sabtu, 23 April 2022

Jurnal Refleksi - Minggu 18

Assalamu 'alaikum wr. wb,

Alhamdulillah, setelah mengikuti pembelajaran Modul 3.1 pada minggu ini, saya banyak mendapatkan pemahaman dan pengalaman tentang bagaimana mengambil sebuah keputusan dengan menganalisis sebuah permasalahan yang kita hadapi, apakah sebuah dilema etika ataukah bujukan moral. Serta bagaimana langkah-langkah yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. 

Saya memahami bahwa dilema etika adalah sebuah keputusan yang harus kita ambil dengan mempertimbangkan benar lawan benar sedangkan bujukan moral adalah dengan mempertimbangkan benar lawan salah, yang bisa jadi salah disini adalah melanggar hukum. 

Saya juga memperoleh pengetahuan tentang 4 paradigma yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yaitu Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term). 

Dalam mengambil sebuah kepuputusan harus berpijak pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). 

4 paradigma dan 3 prinsip pengambilan keputusan akan diterapkan pada 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang harus kita lakukan agar keputusan yang kita ambil menjadi sebuah keputusan yang bijaksana dan tak akan disesali kemudian hari dengan kata lain berpikir sebelum bertindak. Langkah-langkah tersebut antara lain 1) Tentukan nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut, 2) Tentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, 3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, 4) Pengujian benar atau salah (Uji legal, Uji Regulasi, Uji Intuisi, Uji halaman depan Koran, Uji panutan), 5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, 6) Melakukan Prinsip Resolusi, 7) Investigasi Opsi Trilema, 8) Buat Keputusan, 9) Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.   

Hal baik yang saya alami dalam proses tersebut adalah selain mampu mengidentifikasi permasalahan yang saya hadapi, apakah merupakan sebuah dilema etika ataukah bujukan moral? Jika permasalahan tersebut merupakan dilema etika, maka saya akan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan agar keputusan yang saya ambil, ke depan tidak akan menimbulkan permasalahan baru dan menjadi penyesalan.  

Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah bahwa dari dilema yang kita hadapi tidak hanya muncul 2 opsi, namun dari 2 opsi tersebut dapat menghadirkan opsi ke tiga yang disebut dengan istilah opsi trilema. 

Pengalaman saya dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses saya mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang saya hadapi selama ini yaitu sebelum saya mengikuti PGP dan belum memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat tentang budaya positif dan berpihak pada anak serta bagaimana pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Hambatan atau kesulitan yang saya alami selama proses pembelajaran pada minggu ini adalah pada saat mencoba menyelesaikan kasus sebagai Kepala Sekolah baru yang dihadapkan pada permasalahan dengan penerbit yang memberikan fee kepada Kepala Sekolah sebagaimana hal rutin yang telah dilakukan sebelumnya. Disini, saya masih ragu akan respon yang saya berikan. Walaupun pada sesi Elaborasi bersama Instruktur dikatakan bahwa tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar dari respon yang kami berikan.  

Yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut adalah melakukan pengujian ulang sebagaimana 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Juga mencari referensi respon rekan-rekan CGP dan berkoordinasi dengan rekan-rekan guru dan Kepsek.

Selama pembelajaran berlangsung, saya sangat senang karena walau seperti Instruktur katakan bahwa ini merupakan Modul yang sangat ribet, namun memang hal ini merupakan fakta yang sering terjadi di lapangan dan trik bagaimana menghadapinya, sangat saya butuhkan. Dengan mempelajari Modul 3.1 ini saya berharap dapat menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang mumpuni.

Pelajaran yang saya dapatkan dari proses ini adalah menjadi seseorang yang lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan terhadap permasalahan yang saya hadapi agar menjadi seorang yang bijak, sehingga keputusan yang saya ambil menjadi keputusan yang baik, dan tak kan saya sesali, juga menghindari munculnya permasalahan baru. 

Setelah proses ini, saya paham bahwa seorang pemimpin pembelajaran harus dapat menjadi seorang panutan yang dengan keputusan-keputusan yang diambilnya mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpihak pada anak.

Hal yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan adalah mengambil keputusan berdasarkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada anak. Jika ada beberapa dari 5 langkah pengujian, mendapatkan jawaban ya, berarti hal itu merupakn bujukan moral, maka perlu saya hindari dan tinggalkan. Namun jika jawabannya "tidak", sehingga lebih mengarah pada dilema etika, maka saya harus dapat mengontrol diri untuk dapat membuat keputusan yang tepat dan bermanfaat.

Setelah belajar dari peristiwa ini, saya akan melakukan aksi/tindakan berupa 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada anak.

Demikianlah yang dapat saya paparkan dalam jurnal refleksi minggu ini. Semoga dapat bermanfaat.

Terima kasih. Salam Guru Penggerak, Guru Bergerak, Indonesia Maju.

Wassalamu 'alaikum wr. wb,


Minggu, 17 April 2022

Refleksi Terbimbing Modul 3.1

Oleh Yuliani, S.Pd

Assalamu 'alaikum wr.wb

Alhamdulillah setelah saya mempelajari modul ini saya lebih memahami apa yang dimaksud dengan dilema etika dan bujukan moral. Saya memahmi bahwa dilema etika adalah sebuah keputusan yang harus kita ambil dengan mempertimbangkan benar lawan benar sedangkan bujukan moral adalah dengan mempertimbangkan benar lawan salah, yang bisa jadi salah disini adalah melanggar hukum. Saya memperoleh pengetahuan tentang 4 paradigma yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yaitu Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term). Dalam mengambil sebuah kepuputusan harus berpijak pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang harus kita lakukan agar keputusan yang kita ambil menjadi sebuah keputusan yang bijaksana dan tak akan disesali kemudian hari dengan kata lain berpikir sebelum bertindak. Langkah-langkah tersebut antara lain 1) Tentukan nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut, 2) Tentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, 3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, 4) Pengujian benar atau salah (Uji legal, Uji Regulasi, Uji Intuisi, Uji halaman depan Koran, Uji panutan), 5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, 6) Melakukan Prinsip Resolusi, 7) Investigasi Opsi Trilema, 8) Buat Keputusan, 9) Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.   


Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah bahwa dari dilema yang kita hadapi tidak hanya muncul 2 opsi, namun dari 2 opsi tersebut dapat menghadirkan opsi ke tiga yang disebut dengan istilah opsi trilema. 


Pengalaman saya dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses saya mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang saya hadapi selama ini yaitu sebelum saya mengikuti PGP dan belum memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat tentang budaya positif dan berpihak pada anak serta bagaimana pengampilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saat itu saya dihadapkan pada kasus seorang murid kelas 5 SD yang dicurigai mencuri uang murid kelas 1, namun ia tidak mau mengakuinya karena tidak adanya saksi dan bukti menurut dia. Kepala Sekolah meminta saya untuk menangani kasus ini agar tidak menjadi kemarahan wali murid, apalagi korban merupakan anak yatim serta hal ini telah melanggar peraturan sekolah yaitu tentang mengambil milik orang lain tanpa izin. Saya memanggil murid tersebut dan mencoba mengorek informasi lebih lanjut, namun pada awalnya ia tidak mau mengaku. Setelah saya mengatakan bahwa saya akan membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya sebelum saya menyerahkan permasalahan ini kepada pihak yang berwajib dan tentunya jika ia terbukti bersalah, maka ia akan diberi hukuman yang setimpal yang tentunya ia nanti akan merasa malu dan mempermalukan orang tuanya. “Apakah kamu mau? Atau kamu mengakui perbuatan ini dan kita akan selesaikan secara kekeluargaan?”, Saya memberinya. Dengan menangis, ia mengakui perbuatannya karena ia membutuhkan tambahan uang jajan, namun ia memohon agar hal ini tidak dilaporkan kepada orang tuanya dan juga pada para guru dan murid lain. Ia merasa malu dan ingin berhenti sekolah. Saat itu yang terlintas dipikiran saya adalah apakah saya harus menutupi kesalahan murid ini agar ia tidak merasa malu dan berhenti sekolah ataukah saya harus melaporkan informasi ini kepada pihak sekolah? Setelah mempertimbangkan dengan berbagai alasan, akhirnya saya memutuskan bahwa saya harus memberinya sebuah pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi yaitu dengan memanggil dan memberi tahu kedua orang tuanya serta melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru dengan meminta mereka tidak menyebarluaskannya dengan mempertimbangkan perasaan si murid. Kemudian saya juga memintanya untuk meminta maaf pada korban, dan saya membantunya dengan menggantikan uang yang telah dicurinya agar korban tak lagi mempermasalahkan hal ini yang tentunya akan memperpanjang masalah, dengan catatan saya meminta pada korban untuk memaafkan dan tidak menyebarluaskan hal ini pada orang lain demi menjaga persahabatan mereka, mengingat mereka juga masih ada hubungan saudara. 

1) Keputusan yang diambil

Dari dilema etika antara memutuskan apakah saya harus menutupi kesalahan murid ini adalah benar, dengan mempertimbangkan agar ia tidak merasa malu dan berhenti sekolah. Saya harus melaporkan informasi ini kepada pihak sekolah dan orang tuanya juga benar karena ini merupakan sebuah bentuk penyimpangan nilai karakter moral peserta didik yang selama ini telah diterapkan.

2) Prinsip yang digunakan.

Prinsip yang  saya gunakan adalah prinsip berbasis rasa peduli (Care-Based Thingking) karena saya merasa, jika saya berada dalam posisi yang dialami oleh murid tersebut, maka saya pun mengharapkan orang lain melakukan hal yang sama terhadap saya.

Berikut ini adalah pengujian keputusan berdasarkan 9 langkah.

a. Nilai yang saling bertentangan

Nilai yang saling bertentangan pada kasus tersebut adalah nilai karakter kejujuran yang telah disepakati sekolah dan nilai rasa empati terhadap situasi dan kondisi yang dialami murid tersebut.

b. Orang-orang yang terlibat

Yang terlibat dalam situasi tersebut adalah Murid (pelaku dan korban), Wali Kelas, Kepala Sekolah, Guru lainnya, dan Orang Tua Murid.

c. fakta-fakta yang relevan 

Fakta-fakta yang relevan terhadap situasi tersebut adalah benar jika saya harus menutupi kesalahan murid ini adalah benar, dengan mempertimbangkan agar ia tidak merasa malu dan berhenti sekolah. Dan benar juga jika saya harus melaporkan informasi ini kepada pihak sekolah dan orang tuanya juga benar karena ini merupakan sebuah bentuk penyimpangan nilai karakter moral peserta didik yang selama ini telah diterapkan.

d. Pengujian benar atau salah terhadap situasi yang terjadi

Uji Legal : Ada aspek pelanggaran hukum pada situasi tersebut.

Uji Regulasi : Ada pelanggaran peraturan sekolah.

Uji Intuisi : Tidak ada yang salah salah karena dalam mengikuti peraturan sekolah, ada opsi pembinaan terhadap pelanggar peraturan.

Uji halaman depan Koran : Perasaan saya jika keputusan saya dipublikasi, saya merasa tidak nyaman, karena mungkin akan ada yang menanggapi negatif.

Keputusan yang akan diambil oleh idola saya pasti keputusan yang dapat berpihak pada anak dan dapat mempengaruhi perkembangan psikologis dan masa depan anak yang lebih baik.

e. Paradigma yang terjadi pada situasi tersebut.

Paradigama yang terjadi adalah Rasa Keadilan Lawan Rasa Kasihan (Justice Vs Mercy)

f. Prinsip yang dipakai.

Prinsip yang dapat dipakai dalam kondisi yang ditunjukkan kasus ini adalah prinsip berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thingking)

g. Investigasi Opsi Trilema

Setelah menganalisis lebih dalam kasus tersebut, menurut saya, ada investasi opsi trilema yang dapat saya lakukan yaitu memutuskan saya harus memberinya sebuah pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi yaitu dengan memanggil dan memberi tahu kedua orang tuanya serta melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru dengan meminta mereka tidak menyebarluaskannya dengan mempertimbangkan perasaan si murid. Kemudian saya juga memintanya untuk meminta maaf pada korban, dan saya membantunya dengan menggantikan uang yang telah dicurinya agar korban tak lagi mempermasalahkan hal ini yang tentunya akan memperpanjang masalah, dengan catatan saya meminta pada korban untuk memaafkan dan tidak menyebarluaskan hal ini pada orang lain demi menjaga persahabatan mereka , mengingat mereka juga masih ada hubungan saudara. 

h. Keputusan yang kami ambil 

Setelah melakukan langkah pengujian, saya mengambil keputusan untuk memberinya sebuah pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi yaitu dengan memanggil dan memberi tahu kedua orang tuanya serta melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru dengan meminta mereka tidak menyebarluaskannya dengan mempertimbangkan perasaan si murid. Kemudian saya juga memintanya untuk meminta maaf pada korban, dan saya membantunya dengan menggantikan uang yang telah dicurinya agar korban tak lagi mempermasalahkan hal ini yang tentunya akan memperpanjang masalah, dengan catatan saya meminta pada korban untuk memaafkan dan tidak menyebarluaskan hal ini pada orang lain demi menjaga persahabatan mereka , mengingat mereka juga masih ada hubungan saudara. Dengan begitu dilema etika yang terjadi dapat dipadukan dan melahirkan opsi baru yang lebih baik.

i. Melihat kembali hasil keputusan, dan refleksi

Keputusan saya harus memberinya sebuah pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi yaitu dengan memanggil dan memberi tahu kedua orang tuanya serta melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru dengan meminta mereka tidak menyebarluaskannya dengan mempertimbangkan perasaan si murid. Kemudian saya juga memintanya untuk meminta maaf pada korban, dan saya membantunya dengan menggantikan uang yang telah dicurinya agar korban tak lagi mempermasalahkan hal ini yang tentunya akan memperpanjang masalah, dengan catatan saya meminta pada korban untuk memaafkan dan tidak menyebarluaskan hal ini pada orang lain demi menjaga persahabatan mereka , mengingat mereka juga masih ada hubungan saudara.  Keputusan ini merupakan bagian dari menjunjung tinggi peraturan yang berlaku disekolah, namun tetap menunjukkan rasa peduli dan empati terhadap kondisi dan situasi yang dialami murid dengan bersikap lebih bijak dan mempertimbangkan masa depannya, sebagai bentuk keputusan yang terlahir dari opsi trilema.

Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema. Bedanya adalah saya mengambil keputusan dengan tidak mempertimbangkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Setelah mempelajari modul ini, tentunya akan sangat berdampak positif bagi diri saya dan orang lain di sekitar saya. Dalam menghadapi kasus, saya tentunya akan mempertimbangkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Sangat penting penting mempelajari topik modul ini bagi saya sebagai seorang individu dan saya sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Hal ini tentunya akan mendorong saya untuk tampil sebagai seorang yang benar-benar berjiwa seorang guru, yang cocok dijadikan panutan dan teladan baik bagi para peserta didik, rekan kerja, keluarga, kerabat dan lingkungan saya.

Hal yang bisa saya lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan saya setelah saya mempelajari modul ini adalah mensosialisasikan kepada para rekan guru serta mengimplementasikan pengetahuan baru yang saya dapat agar pendidikan karakter yang sesuai dengan profil pelajar pancasila dapat tercapai dengan baik.

Selain konsep-konsep tersebut, hal-hal lain yang menurut saya penting untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah dengan mempertimbangkan ajaran agama yang dianut sehingga pengambilan keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan ajaran norma agama.

Ada nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orangtua, kakek dan nenek saya yang menjadi karakter khas suku atau masyarakat dimana saya tingga yaitu toleransi, kasih sayang, kejujuran, kerja sama, rela berkorban, bekerja keras, dan hidup rukun.

Saya sebagai seorang guru akan menggunakannya untuk membantu saya dalam pengambilan keputusan selain dengan mempertimbangkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, saya juga akan mempertimbangkan hal-hal yang menjadi nilai kebajikan yang telah ditanamkan dalam diri saya sejak kecil oleh orang tua, kakek dan nenek saya. Hal ini sbagai wujud rasa empati terhadap orang lain.

Demikianlah refleksi diri yang dapat saya sampaikan. Terima kasih

Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak Indonesia Maju

Wassalamu 'alaikum wr.wb

Jurnal Refleksi - Minggu 17

 Oleh Yuliani, S.Pd

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberi rahmat dan hidayahNya  sehingga saya dapat menuangkan Jurnal Refleksi Mingguan pada Modul 3.1 melalui tulisan ini. Jurnal ini akan menjadi rekam jejak bagi saya sebagai seorang CGP untuk terus semangat dalam belajar dan berusaha untuk dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan serta sikap dan pemikiran saya yang akan berdampak bagi peningkatan kualitas pembelajaran sehingga dapat memajukan Pendidikan Indonesia. Pada kesempatan ini, izinkan saya merefleksi kegiatan saya dalam seminggu ini melalui model Driscoll. 

Pada kegiatan Eksplorasi Konsep secara mandiri, saya melakukan wawancara bersama rekan tentang kasus yang terjadi pada siswa kelas V SD yang dijemur oleh gurunya yang terkenal galak dan disiplin. Saya merekam tangggapannya pada wawancara tersebut dan mengungahnya pada drive saya.

Alhamdulillah setelah mempraktikkannya, saya lebih memahami 4 paradigma yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yaitu Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term). Dalam mengambil sebuah kepuputusan harus berpijak pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang harus kita lakukan agar keputusan yang kita ambil menjadi sebuah keputusan yang bijaksana dan tak akan disesali kemudian hari dengan kata lain berpikir sebelum bertindak. Langkah-langkah tersebut antara lain 1) Tentukan nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut, 2) Tentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, 3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, 4) Pengujian benar atau salah (Uji legal, Uji Regulasi, Uji Intuisi, Uji halaman depan Koran, Uji panutan), 5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, 6) Melakukan Prinsip Resolusi, 7) Investigasi Opsi Trilema, 8) Buat Keputusan, 9) Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.  

Pembelajaran Modul 3 terasa sangat padat dan cukup berkesan dan ada beberapa kendala yang terjadi, mengingat ini adalah bulan Ramadhan. Pada hari Rabu pagi, pukul 09.00 WEIB hingga 11.30 WIB saya mengikuti Pretes PPG 2022, dan harus sudah standby depan laptop mulai pukul 08.30 WIB. Pada singharinya, pukul 13.30 hingga pukul 15.30, dilanjutkan dengan kegiatan GMeet Ruang KOlaborasi Presentasi. Karena saya yang mendapat membuat tugas kelompok dalam bentuk Power Point, maka saya yang mempresentasikannya. Cukup malu dan sedih saya, karena ditengah-tengah presentasi, saya tiba-tiba terbatuk hingga muntah, karena kondisi saya yanng belum sepenuhnya pulih. Dah sebulan, tapi kondisi saya belum sepenuhnya fit. Hal ini sungguh membuat saya tersiksa, tapi saya tetap bersemangat mengikuti semua rangkaian kegiatan walau saya harus mengikuti Gmeet didepan pintu kamar mandi, sehingga memudahkan saya jika saya harus ke kamar mandi. 

Ditambah dengan kegiatan Lokakarya 4 yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 April 2022 kemarin. Pada kegiatan lokakarya, Alhamdulillah, batuk saya tidak begitu parah, baru kumat diujung acara, yaitu pada penutupan. Kami menjadikannya lokakarya sebagai ajang silaturahmi bersama para CGP dan dapat saling mengkomunikasikan permasalahan yang kami hadapi selama pembelajaran dan menemukan solusinya. 

Alhamdulillah, setelah sekian kali mengikuti Lokakarya, namun lokakarya kemarin merupakan lokakarya yang paling nyaman karena berkolaborasi dengan PP dan CGP yang smart dan bersabahat. Adanya dukungan positif ini, membuat saya tetap bersemangat untuk terus lanjut mengikuti PGP dengan berupaya agar dapat menyelesaikan setiap tahapan sesuai dengan jadwal yang telah dibagikan agar tidak menjadi tugas yang menumpuk sehingga akan membuat saya kewalahan.  

Agar bisa menindaklanjuti refleksi ini, saya membutuhkan dukungan dan motivasi dari keluarga, rekan CGP, PP, Fasil, Kepsek, dan rekan sejawat. Dukungan dan motivasi yang sering diberikan oleh Fasil kami, Bapak Muhammad juga tak kalah penting. Beliau senantiasa mengingatkan akan tugas-tugas yang harus segera kami selesaikan. Namun satu hal yang menjadi saya sedikit khawatir, yaitu mengenai beberapa tugas yang belum dinilai, saya khawatir akan berpengaruh pada nilai akhir saya. Beliau memberikan saya beberapa kali nilai 100, Alhamdulillah. Terima kasih Bapak Fasil. Beliau mengatakan, selesaikan tugas degan mengikuti instruksi dan arahan di LMS serta memperhatikan rubrik penilaian. Harapan saya, setelah mengikuti semua rangkaian kegiatan pembelajaran baik daring maupun luring, baik penugasan maupun menjawab pertanyaan, saya dapat mengikuti PGP hingga selesai dan dapat memperoleh Sertifikat GP.

Setelah saya melakukan pembelajaran ini, hal baru yang ingin saya bagikan kepada rekan atau lingkungan saya adalah bagaimana kita dapat mengambil sebuah keputusan dengan menempatkan diri kita sebagai pemimpin pembelajaran.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Mohon kritikan disertai saran yang dapat memperbaiki diri dan karya saya ke depan. Terima kasih.

Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak Indonesia Maju

Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 09 April 2022

Jurnal Refleksi - Minggu 16

Oleh Yuliani, S.Pd


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur Alhamdulillah,, saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberi rahmat dan hidayahNya  kepada saya Jurnal Refleksi Minggu ke-16 ini dapat saya selesaikan tepat waktu. 

Kegiatan pembelajaran di LMS berkahir pada Modul 2 berakhir dalam minggu ini dengan menyelesaikan post tes Modul 2 pada hari Rabum 6 April 2022. Saya mempelajari ulang semua materi, namun tetap saja hasil yang saya peroleh belum maksimal. Pada post tes modul 1, saya memperoleh nilai 75, sedangkan pada post tes modul 2, saya hanya memperoleh nilai 73,33. Tentu saja ini membuat saya kecewa dengan diri saya sendiri, padahal saya sudah berusaha mempelajari setiap materi dengan baik, namun saya belum berhasil meraih nilai sesuai dengan harapan saya.

Kamis, 7 April 2022, kami mulai memasuki Modul 3 dengan terlebih dahulu menyelesaikan pre tes modul 3. Alhamdulillah pada pretes kali ini saya memperoleh nilai yang lebih baik dari sebelumnya. Saya merasa soal yang tersedia lebih mudah dipahami dari kaidah bahasa dan pilihan jawaban juga dapat mengarahkan pada jawaban yang benar. Harapan saya, pada post tes, terjadi peningkatan, saya akan memperoleh nilai yang lebih baik lagi.

Modul 3 ini bertema Pemimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah. Memulai Modul 3 pada Sub modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran, yaitu pada sesi Mulai dari Diri. Alhamdulillah materi yang tersedia lebih mudah dipahami yaitu seputar dilema etika dan bujukan moral. Pada modul ini, kami lebih banyak menyaksikan materi yang dipaparkan lewat video berupa contoh kasus dan CGP diminta untuk menanggapi kasus tersebut. CGP diajak berpikir kritis dan bijak dalam menanggapi setiap kasus yang ditampilkan. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika.

Sembari mempelajari Modul 3.1, ada sesuatu yang mengganjal di benak saya mengenai aksi nyata Modul 2.3. Menurut instruksi yang tertera di LMS seperti yang tertera pada gambar berikut :

Ini merupakan sebuah dilema bagi saya, apakah mengikuti instruksi LMS atau mengikuti pemahaman rekan-rekan CGP yang telah mengirimkan Videonya pada kegiatan Aksi Nyata? Menurut pemahaman saya, untuk saat ini, pada sesi 2.3.a.10. Aksi Nyata - Coaching hanya sebagai tempat untuk berkomunikasi bersama fasilitator tentang rancangan atau implementasi aksi nyata yang CGP lakukan.

Saya senantiasa membutuhkan dukungan dari keluarga, rekan guru, Kepala Sekolah, rekan CGP, PP, dan Fasil dalam memberikan kritik, saran dan motivasi bagi saya untuk menyelesaikan setiap tahapan yang ada di LMS dan tahapan-tahapan pada PGP. 

Harapan saya, ke depannya saya akan lebih diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam mempelajari semua materi pada PGP dan mengimplementasikannya kepada para siswa dan rekan guru, baik di tempat saya mengajar maupun di sekolah lain. 

Demikianlah yang dapat saya tuangkan pada jurnal refleksi minggu ini. Kritikan dan saran yang dapat memperbaiki diri dan karya saya ke depan, siap saya terima dengan baik. Terima kasih.

Salam Guru Penggerak.

Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 05 April 2022

Jurnal Refleksi - Minggu 15

Oleh Yuliani, S.Pd

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya  sehingga saya dapat menuliskan Jurnal Refleksi Minggu ke -15 ini. Jurnal ini sebagai rekam jejak bagi saya untuk mengetahui apa saja perasaan dan  kendala yang terjadi serta solusi yang saya lakukan sebagai perbaikan pembelajaran ke depan.

Di Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan hikmah ini, kami harus memperbaiki Video rekaman sebagai tugas di 2.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pendampingan Murid dengan Pendekatan Coaching dalam Komunitas Sekolah Saya. Perbaikan ini sebagai pemenuhan instruksi yang ada di LMS yaitu pada poin 2 yang berbunyi "Pastikan Anda dan Coachee menyediakan waktu secara khusus selama 20-30 menit untuk praktek coaching ini. Coachee perlu diberi tahu bahwa sesi coaching ini akan direkam untuk keperluan program dan hanya akan didengar oleh fasilitator". 

Saya sudah membaca instruksi, namun saya berfokus pada kriteria penilaian yang tidak berisi bahwa durasi video harus berkisar 20-30 menit. Menurut pemahaman saya, waktu 20-30 menit adalah untuk pelakasanaan rekaman, dan tentunya ada hal-hal yang terasa kaku harus saya potong. Sebenarnya ini juga merupakan kelalaian saya karena tidak menggabungkan refleksi diri yang telah saya lakukan menjadi sebuah video. Hal ini tentu saja merupakan sebuah permasalahan dan tantangan tersendiri bagi saya, mengingat saat ini adalah masa libur sekolah. Sulit untuk meminta bantuan teman-teman dalam membuat rekaman ulang karena masing-masing sibuk dengan kegiatan di bulan suci yang penuh rahmat ini.

Alhamdulillah setelah menonton ulang video yang saya buat dengan durasi sekitar 15 menit 39 detik dan disana saya periksa tidak ada refleksi, maka ini bukanlah sebuah permalahan besar yang menuntut saya untuk mengambil rekaman ulang. Saya memperbaiki ulang rekaman tersebut dengan Aplikasi Camtasia dengan menambah pada intro dan outro video, sehingga video saya dapat berdurasi menjadi 29 menit. Dan saya segera mengirimkan ulang tugas saya. Namun, terus terang saya menjadi bersedih karena di LMS saya mejadi pink dengan keterangan Time Remaining Assignment was submitted 2 days 23 hours late.

Berdasarkan pengalaman tersebut, ke depannya saya berencana untuk lebih fokus atas setiap instruksi dan kriteria penialaian yang tersedia. Akhir-akhir ini memang kondisi kesehatan saya kurang bagus, ditambah dengan saya harus mempersiapkan diri untuk mengikuti pretes PPG tentunya hal ini sangat menguras tenaga dan pikiran saya.

Merujuk refleksi yang saya lakukan, dukungan dari keluarga merupakan hal utama bagi saya. Dukungan rekan guru, Kepala Sekolah, rekan CGP, PP, dan Fasil dalam mengingatkan tugas-tugas yang harus segera diselesaikan dan kriteria penilaian yang digunakan, merupakan sebuah hal yang tak kalah pentingngnya bagi saya untuk terus memperbaiki diri dalam mengerjakan tugas tepat waktu secara baik dan benar. 

Di akhir pembelajaran modul 2, saya berkomitmen untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan KSE dan coaching agar dapat memperbaiki karakter siswa dan guru dalam pembelajaran yang lebih bermutu dan berkualitas. Hal ini tentunya akan berdampak pada peningkatan pengetahuan dan ketrampilan siswa.

Demikianlah yang dapat saya refleksikan minggu ini. Saya terbuka menerima kritikan dan saran yang dapat memperbaiki diri dan karya saya ke depan. Terima kasih.

Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak, Indonesia Maju.

Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 04 April 2022

Koneksi Antarmateri - Coaching

Oleh Yuliani, S.Pd


 Assalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu upaya penerapan pembelajaran yang berpihak pada murid. Pada pembelajaran berdiferensiasi dilakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki murid. Hal ini sebagai langkah awal dalam membuat sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang akan diterapkan di kelas dengan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Diferensiasi dapat dilakukan dalam bentuk diferensiasi konten, diperensiasi proses, dan diperensiasi produk. Dengan adanya pembelajaran berdiferensiasi yang berpatokan pada kebutuhan belajar murid, akan menciptakan suasana yang lebih aktif dan menyenangkan karena siswa terlibat langsung didalamnya.

Pada pembelajaran berdiferensiasi, sebagai seorang guru, kita dapat memetakan kebutuhan belajar murid dengan mengidentifikasi karakteristik setiap anak di kelas, mengetahui kekuatan yang dimiliki murid, memahami gaya belajar dan minat murid. Perhatikan siapa yang memiliki keterampilan menghitung paling baik di kelas dan sebaliknya, siapa yang paling menyukai kegiatan kelompok dan siapa yang justru selalu menghindar saat bekerja kelompok, siapa yang level membacanya paling tinggi dan siapa yang masih perlu dibantu untuk meningkatkan keterampilan memahami bacaan, siapa yang paling senang menulis dan siapa yang lebih senang berbicara. Melalui kegiatan ini, Insya Allah kita dapat memperbaiki kualitas pembelajaran dengan kondisi belajar yang aktif dan menyenangkan.

Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pada PSE, saya memperlajari mindfulness. Mindfullness merupakan sebuah perenungan atas hal-hal yang dialami dalam upaya merespon terhadap kondisi diri sendiri secara lebih tepat. Untuk mencapai pemahaman mindfullness dan mengenali emosi yang ada dalam diri kita, sejatinya kita harus mempraktikkan mindfulness. Salah satunya yaitu dengan menerapkan teknik STOP (Stop, Take a deep Breath, Observe and Proceed).

Ukuran seorang murid dikatakan pada tingkatan well being, “murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan (daya lenting/resiliensi) dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab” (Mcgrath & Noble, 2011).

Berbagai kegiatan berbasis kesadaran penuh (mindfulness) dalam sehari-hari memungkinkan seseorang membangun kesadaran penuh untuk dapat memberikan perhatian secara berkualitas yang didasarkan keterbukaan pikiran, rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan hati (compassion) yang akan membantu seseorang dalam menghadapi situasi-situasi menantang dan sulit. 

Pembelajaran 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara eksplisit berfokus pada:

  1. Pengelolaan Emosi dan Fokus
  2. Empati
  3. Kemampuan kerja sama dan resolusi konflik
  4. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab
  5. Pengenalan Emosi

Komunikasi yang memberdayakan untuk mendukung pelaksanaan coaching meliputi:

  1. Komunikasi yang asertif
  2. Pendengar aktif
  3. Bertanya efektif
  4. Umpan balik positif

Untuk membangun keselarasan berkomunikasi, coach perlu belajar menyamakan posisi diri pada saat coaching berlangsung seperti 

1. Menyamakan kata kunci

Persamaan kata kunci dalam pembicaraan akan berdampak coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi. Kata kunci merupakan kata-kata yang diulang-ulang atau ditekankan oleh coachee dan ini biasanya terkait dengan nilai kehidupan. Coach dapat menggunakan kata-kata kunci ini untuk membimbing coachee untuk mencapai tujuannya.

2. Menyamakan bahasa tubuh

Coach menanggapi apa yang disampaikan coachee dengan senyum atau dengan anggukan sebagai tanda setuju secara tidak langsung. Ikuti gerakan coachee yang bersandar ke lengan kursi atau saat coachee sedang bersemangat bercerita dan mencondongkan tubuhnya ke depan, usahakan  untuk mengikutinya secara halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa bahwa gerakannya sedang ditiru sehingga menyebabkannya menjadi canggung atau berpikiran lain.

3. Menyelaraskan emosi

Komunikasi asertif membangun relasi. Relasi baik dan positif yang terbentuk akan menjadi modal utama dalam process coaching.

Dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan PSE, saya berperan sebagai Penuntun (Sistem Among) atau seorang Coach di sekolah. Saya membantu para rekan guru dan siswa yang menemui kendala-kendala baik dalam pembelajaran maupun permasalahan pribadi lainnya. Saya mempraktikkan pada coachee tentang ilmu coaching yang telah saya pelajari pada modul 2.3 baik secara mandiri di LMS, di ruang kolaborasi bersama rekan CGP dan Fasilitator maupun bersama Instruktur  pada sesi Elaborasi Pemahaman. Pada kegiatan coaching, saya menjadi seorang coach dengan menggali pertanyaan-pertanyaan untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi, menggali potensi diri coachee untuk mengungkapkan solusi, dan mengajak coachee untuk berkomitmen dengan penuh tanggung jawab melaksanakan rencana aksi yang telah dibuatnya.

Keterampilan coaching dapat membantu profesi saya sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid. Dalam menerapkan coaching, yang sangat erat kaitannya dengan Pembelajaran Sosial Emosional, dibutuhkan ketrampilan khusus dari seorang coach, terutama mindfulness dalam upaya menciptakan well being (kesejahteraan hidup). Oleh karena itu, saya sebagai seorang guru yang akan bertindak sebagai seorang coach pada kegiatan coaching, saya harus terus menggali dan mengambangkan ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang coach. Ketrampilan tersebut diantaranya adalah mendengarkan secara aktif, fokus pada tujuan akhir, bertanya pertanyaan yang tepat, komunikasi yang memotivasi, memberikan umpan balik untuk pengembangan.

Demikianlah ulasan saya tentang koneksi antar materi yang telah saya pelajari pada modul 2 Pendidikan guru Penggerak.

Salam Guru Penggerak, Guru Bergerak Indonesia Maju.

Wassalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.


Sabtu, 02 April 2022

Jurnal Refleksi - Minggu 14

Oleh Yuliani, S.Pd

CGP Angkatan 4 Kab. Aceh Utara

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberi rahmat dan hidayahNya  sehingga saya dapat menuangkan Jurnal Refleksi Mingguan melalui tulisan ini pada hari puasa pertama di Ramadhan 1443 H. Kegiatan menulis jurnal merupakan rekam jejak bagi saya untuk mengetahui apa saja perasaan yang saya alami sebagai pengalaman yang terjadi, kendala yagn saya hadapi dan solusi yang saya lakukan agar dapat meningkatkan kualitas diri demi memperbaiki pembelajaran sehingga mampu memajukan Pendidikan di Indonesia.

Pada minggu ini, tepatnya hari rabu, 30 Maret 2022, saya mendapatkan Pendampingan Individu yang ke 3 oleh Pengajar Praktik. Alhamdulillah pendampingan berjalan baik dan lancar. Keesokan harinya, kami memasuki sesi Elaborasi Pemahaman bersama Instruktur, yaitu dengan Bapak Surya Herdiansyah yang memberikan pendalaman materi tentang Coaching. Alhamdulillah pemahaman saya tentang coaching menjadi lebih bertambah. Beliau memberikan kasus dan meminta kami untuk memberi pertanyaan berdasarkan kasus tersebut, lalu beliau menanggapi pertanyaan yang kami lontarkan dengan baik.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya dapat menarik kesimpulan bahwa dalam Coaching, menggunakan pertanyaan dengan kata kunci apa, siapa, kapan, berapa dan bagaimana jangan pernah menggunakan pertanyaan mengapa, karena akan terasa menghakimi sehingga sang coachee biasanya akan ragu untuk mengemukakan lebih lanjut permasalahannya. Penerapan coaching dalam konteks pendidikan, menurut saya sangat bagus karena akan membantu Coach (guru) menjadi seorang guru yang bijaksana dengan menggali pertanyaan-pertanyaan untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi, menggali potensi diri coachee untuk mengungkapkan solusi, dan mengajak coachee untuk berkomitmen dengan penuh tanggung jawab. Sementara coachee (baik guru maupun siswa) lebih terbuka mengemukakan perasaan dan kendala yang dialaminya dan mampu menjadikannya lebih cerdas karena dapat menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapinya secara bertanggung jawab, tidak hanya sekedar manut dengan saran yang diajukan oleh orang lain.

Berdasarkan refleksi ini, saya membutuhkan dukungan dari rekan guru, Kepala Sekolah, rekan CGP, PP, dan Fasil untuk dapat memberikan kritikan yang membangun serta saran untuk perbaikan yang dapat memotivasi diri saya agar lebih baik ke depan dalam segala hal.

Dalam hal pelaksanaan coaching di sekolah saya, langkah awal yang perlu saya lakukan adalah dengan terus menghidupkan kegiatan pada Komunitas Praktisi yang telah terbentuk. Kemudian saya mensosialisasikan tentang coaching agar dapat diterapkan di sekolah yang tentunya akan memberi dampak positif bagi karakter siswa dan guru yang menjadi lebih mencerminkan karakter positif masyarakat Indonesia.

Setelah pembelajaran ini, hal baru yang ingin saya bagikan kepada rekan atau lingkungan saya adalah bagaimana menerapkan coaching dalam menghadapi dan menanggapi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada warga sekolah dengan arif dan bijaksana.

Demikianlah yang dapat saya refleksikan minggu ini. Saya terbuka menerima kritikan dan saran yang dapat memperbaiki diri dan karya saya ke depan. Terima kasih.

Salam Guru Penggerak. Guru bergerak, Indonesia Maju.

Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.