Minggu, 17 April 2022

Refleksi Terbimbing Modul 3.1

Oleh Yuliani, S.Pd

Assalamu 'alaikum wr.wb

Alhamdulillah setelah saya mempelajari modul ini saya lebih memahami apa yang dimaksud dengan dilema etika dan bujukan moral. Saya memahmi bahwa dilema etika adalah sebuah keputusan yang harus kita ambil dengan mempertimbangkan benar lawan benar sedangkan bujukan moral adalah dengan mempertimbangkan benar lawan salah, yang bisa jadi salah disini adalah melanggar hukum. Saya memperoleh pengetahuan tentang 4 paradigma yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yaitu Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term). Dalam mengambil sebuah kepuputusan harus berpijak pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang harus kita lakukan agar keputusan yang kita ambil menjadi sebuah keputusan yang bijaksana dan tak akan disesali kemudian hari dengan kata lain berpikir sebelum bertindak. Langkah-langkah tersebut antara lain 1) Tentukan nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut, 2) Tentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, 3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, 4) Pengujian benar atau salah (Uji legal, Uji Regulasi, Uji Intuisi, Uji halaman depan Koran, Uji panutan), 5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, 6) Melakukan Prinsip Resolusi, 7) Investigasi Opsi Trilema, 8) Buat Keputusan, 9) Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.   


Hal-hal yang menurut saya di luar dugaan adalah bahwa dari dilema yang kita hadapi tidak hanya muncul 2 opsi, namun dari 2 opsi tersebut dapat menghadirkan opsi ke tiga yang disebut dengan istilah opsi trilema. 


Pengalaman saya dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses saya mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang saya hadapi selama ini yaitu sebelum saya mengikuti PGP dan belum memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat tentang budaya positif dan berpihak pada anak serta bagaimana pengampilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saat itu saya dihadapkan pada kasus seorang murid kelas 5 SD yang dicurigai mencuri uang murid kelas 1, namun ia tidak mau mengakuinya karena tidak adanya saksi dan bukti menurut dia. Kepala Sekolah meminta saya untuk menangani kasus ini agar tidak menjadi kemarahan wali murid, apalagi korban merupakan anak yatim serta hal ini telah melanggar peraturan sekolah yaitu tentang mengambil milik orang lain tanpa izin. Saya memanggil murid tersebut dan mencoba mengorek informasi lebih lanjut, namun pada awalnya ia tidak mau mengaku. Setelah saya mengatakan bahwa saya akan membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya sebelum saya menyerahkan permasalahan ini kepada pihak yang berwajib dan tentunya jika ia terbukti bersalah, maka ia akan diberi hukuman yang setimpal yang tentunya ia nanti akan merasa malu dan mempermalukan orang tuanya. “Apakah kamu mau? Atau kamu mengakui perbuatan ini dan kita akan selesaikan secara kekeluargaan?”, Saya memberinya. Dengan menangis, ia mengakui perbuatannya karena ia membutuhkan tambahan uang jajan, namun ia memohon agar hal ini tidak dilaporkan kepada orang tuanya dan juga pada para guru dan murid lain. Ia merasa malu dan ingin berhenti sekolah. Saat itu yang terlintas dipikiran saya adalah apakah saya harus menutupi kesalahan murid ini agar ia tidak merasa malu dan berhenti sekolah ataukah saya harus melaporkan informasi ini kepada pihak sekolah? Setelah mempertimbangkan dengan berbagai alasan, akhirnya saya memutuskan bahwa saya harus memberinya sebuah pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi yaitu dengan memanggil dan memberi tahu kedua orang tuanya serta melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru dengan meminta mereka tidak menyebarluaskannya dengan mempertimbangkan perasaan si murid. Kemudian saya juga memintanya untuk meminta maaf pada korban, dan saya membantunya dengan menggantikan uang yang telah dicurinya agar korban tak lagi mempermasalahkan hal ini yang tentunya akan memperpanjang masalah, dengan catatan saya meminta pada korban untuk memaafkan dan tidak menyebarluaskan hal ini pada orang lain demi menjaga persahabatan mereka, mengingat mereka juga masih ada hubungan saudara. 

1) Keputusan yang diambil

Dari dilema etika antara memutuskan apakah saya harus menutupi kesalahan murid ini adalah benar, dengan mempertimbangkan agar ia tidak merasa malu dan berhenti sekolah. Saya harus melaporkan informasi ini kepada pihak sekolah dan orang tuanya juga benar karena ini merupakan sebuah bentuk penyimpangan nilai karakter moral peserta didik yang selama ini telah diterapkan.

2) Prinsip yang digunakan.

Prinsip yang  saya gunakan adalah prinsip berbasis rasa peduli (Care-Based Thingking) karena saya merasa, jika saya berada dalam posisi yang dialami oleh murid tersebut, maka saya pun mengharapkan orang lain melakukan hal yang sama terhadap saya.

Berikut ini adalah pengujian keputusan berdasarkan 9 langkah.

a. Nilai yang saling bertentangan

Nilai yang saling bertentangan pada kasus tersebut adalah nilai karakter kejujuran yang telah disepakati sekolah dan nilai rasa empati terhadap situasi dan kondisi yang dialami murid tersebut.

b. Orang-orang yang terlibat

Yang terlibat dalam situasi tersebut adalah Murid (pelaku dan korban), Wali Kelas, Kepala Sekolah, Guru lainnya, dan Orang Tua Murid.

c. fakta-fakta yang relevan 

Fakta-fakta yang relevan terhadap situasi tersebut adalah benar jika saya harus menutupi kesalahan murid ini adalah benar, dengan mempertimbangkan agar ia tidak merasa malu dan berhenti sekolah. Dan benar juga jika saya harus melaporkan informasi ini kepada pihak sekolah dan orang tuanya juga benar karena ini merupakan sebuah bentuk penyimpangan nilai karakter moral peserta didik yang selama ini telah diterapkan.

d. Pengujian benar atau salah terhadap situasi yang terjadi

Uji Legal : Ada aspek pelanggaran hukum pada situasi tersebut.

Uji Regulasi : Ada pelanggaran peraturan sekolah.

Uji Intuisi : Tidak ada yang salah salah karena dalam mengikuti peraturan sekolah, ada opsi pembinaan terhadap pelanggar peraturan.

Uji halaman depan Koran : Perasaan saya jika keputusan saya dipublikasi, saya merasa tidak nyaman, karena mungkin akan ada yang menanggapi negatif.

Keputusan yang akan diambil oleh idola saya pasti keputusan yang dapat berpihak pada anak dan dapat mempengaruhi perkembangan psikologis dan masa depan anak yang lebih baik.

e. Paradigma yang terjadi pada situasi tersebut.

Paradigama yang terjadi adalah Rasa Keadilan Lawan Rasa Kasihan (Justice Vs Mercy)

f. Prinsip yang dipakai.

Prinsip yang dapat dipakai dalam kondisi yang ditunjukkan kasus ini adalah prinsip berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thingking)

g. Investigasi Opsi Trilema

Setelah menganalisis lebih dalam kasus tersebut, menurut saya, ada investasi opsi trilema yang dapat saya lakukan yaitu memutuskan saya harus memberinya sebuah pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi yaitu dengan memanggil dan memberi tahu kedua orang tuanya serta melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru dengan meminta mereka tidak menyebarluaskannya dengan mempertimbangkan perasaan si murid. Kemudian saya juga memintanya untuk meminta maaf pada korban, dan saya membantunya dengan menggantikan uang yang telah dicurinya agar korban tak lagi mempermasalahkan hal ini yang tentunya akan memperpanjang masalah, dengan catatan saya meminta pada korban untuk memaafkan dan tidak menyebarluaskan hal ini pada orang lain demi menjaga persahabatan mereka , mengingat mereka juga masih ada hubungan saudara. 

h. Keputusan yang kami ambil 

Setelah melakukan langkah pengujian, saya mengambil keputusan untuk memberinya sebuah pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi yaitu dengan memanggil dan memberi tahu kedua orang tuanya serta melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru dengan meminta mereka tidak menyebarluaskannya dengan mempertimbangkan perasaan si murid. Kemudian saya juga memintanya untuk meminta maaf pada korban, dan saya membantunya dengan menggantikan uang yang telah dicurinya agar korban tak lagi mempermasalahkan hal ini yang tentunya akan memperpanjang masalah, dengan catatan saya meminta pada korban untuk memaafkan dan tidak menyebarluaskan hal ini pada orang lain demi menjaga persahabatan mereka , mengingat mereka juga masih ada hubungan saudara. Dengan begitu dilema etika yang terjadi dapat dipadukan dan melahirkan opsi baru yang lebih baik.

i. Melihat kembali hasil keputusan, dan refleksi

Keputusan saya harus memberinya sebuah pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi yaitu dengan memanggil dan memberi tahu kedua orang tuanya serta melaporkan hal ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru dengan meminta mereka tidak menyebarluaskannya dengan mempertimbangkan perasaan si murid. Kemudian saya juga memintanya untuk meminta maaf pada korban, dan saya membantunya dengan menggantikan uang yang telah dicurinya agar korban tak lagi mempermasalahkan hal ini yang tentunya akan memperpanjang masalah, dengan catatan saya meminta pada korban untuk memaafkan dan tidak menyebarluaskan hal ini pada orang lain demi menjaga persahabatan mereka , mengingat mereka juga masih ada hubungan saudara.  Keputusan ini merupakan bagian dari menjunjung tinggi peraturan yang berlaku disekolah, namun tetap menunjukkan rasa peduli dan empati terhadap kondisi dan situasi yang dialami murid dengan bersikap lebih bijak dan mempertimbangkan masa depannya, sebagai bentuk keputusan yang terlahir dari opsi trilema.

Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema. Bedanya adalah saya mengambil keputusan dengan tidak mempertimbangkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

Setelah mempelajari modul ini, tentunya akan sangat berdampak positif bagi diri saya dan orang lain di sekitar saya. Dalam menghadapi kasus, saya tentunya akan mempertimbangkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Sangat penting penting mempelajari topik modul ini bagi saya sebagai seorang individu dan saya sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Hal ini tentunya akan mendorong saya untuk tampil sebagai seorang yang benar-benar berjiwa seorang guru, yang cocok dijadikan panutan dan teladan baik bagi para peserta didik, rekan kerja, keluarga, kerabat dan lingkungan saya.

Hal yang bisa saya lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan saya setelah saya mempelajari modul ini adalah mensosialisasikan kepada para rekan guru serta mengimplementasikan pengetahuan baru yang saya dapat agar pendidikan karakter yang sesuai dengan profil pelajar pancasila dapat tercapai dengan baik.

Selain konsep-konsep tersebut, hal-hal lain yang menurut saya penting untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah dengan mempertimbangkan ajaran agama yang dianut sehingga pengambilan keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan ajaran norma agama.

Ada nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orangtua, kakek dan nenek saya yang menjadi karakter khas suku atau masyarakat dimana saya tingga yaitu toleransi, kasih sayang, kejujuran, kerja sama, rela berkorban, bekerja keras, dan hidup rukun.

Saya sebagai seorang guru akan menggunakannya untuk membantu saya dalam pengambilan keputusan selain dengan mempertimbangkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, saya juga akan mempertimbangkan hal-hal yang menjadi nilai kebajikan yang telah ditanamkan dalam diri saya sejak kecil oleh orang tua, kakek dan nenek saya. Hal ini sbagai wujud rasa empati terhadap orang lain.

Demikianlah refleksi diri yang dapat saya sampaikan. Terima kasih

Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak Indonesia Maju

Wassalamu 'alaikum wr.wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar