Selasa, 30 November 2021

1.3.a.7.1. Demonstrasi Kontekstual - Menerapkan Inkuiri Apresiatif

1.3.a.7.1. Demonstrasi Kontekstual - Menerapkan Inkuiri Apresiatif

Yuliani, S.Pd

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Keadaan ini berlatar belakang siswa di SD Negeri 7 Nisam Kab. Aceh Utara dengan dampak Pandemi, pembelajaran tatap muka tidak berlaku dengan normal sehingga banyak peserta didik yang tidak maksimal dalam proses dan hasil pembelajaran. Pertimbangan saya ketika merumuskan rekomendasi untuk mengenali serta menumbuhkan potensi murid-murid di SD Negeri 7 Nisam melalui tahapan BAGJA, saya rumuskan sebagai berikut:

B-uat pertanyaan (Define)

 

1.     Mengapa masih terdapat banyak siswa kelas tinggi belum lancar membaca dan memahami apa yang ia baca?

Tindakan yang dapat dilakukan untuk membantu siswa dapat membaca lancar :

-        Membuat program literasi sekolah

-        Membuat sudut baca di kelas

-        Membiasakan 15 menit membaca pada kegiatan pendahuluan

-        Membuat Mading Kelas

-        Berkoordinasi dengan orang tua siswa

 

2.Mengapa mayoritas siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran?

Tindakan yang dapat dilakukan untuk melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran :

  • Menggunakan media pembelajaran Audio Visual.
  • Membiasakan dan menstimulasi siswa agar mau bertanya dan mengemukakan pendapatnya.
  • Memberi applause pada siswa yang mau dan berani menyampaikan pendapat dan menanggapi pendapat temannya dengan bahasa yang santun dan jelas.

 

A-mbil pelajaran (Discover)

 

1.    Kekuatan apa yang kami (saya dan tim) miliki dalam mencapai tujuan?

 Kekuatan yang kami miliki yaitu mayoritas Guru di sudah berpendidikan minimal S-1 dan bersertifikat Pendidik, mampu mengoperasikan komputer, mampu bekerja sama dalam tim, saling berkolaborasi dalam mencapai Visi Sekolah, mendapat dukungan penuh dari Kepala Sekolah, adanya koordinasi dengan Pengawas Sekolah, Komite Sekolah dan Wali Murid.

 

2.    Apa daya pendukung yang dimiliki dalam mencapai tujuan?

  • Terdapat Laptop, Proyektor, jaringan listrik dan internet yang menjadi Media Pembelajaran Ausio Visual
  • Terdapat Perpustakaan Sekolah yang mendukung Gerakan Literasi.
  • Adanya Pendampingan Individu melalui Pendidikan Guru Penggerak yang akan memantau dan mendampingi kemajuan SD Negeri 7 Nisam.

G-ali mimpi (Dream)

 

1.    Apa yang menjadi impian Anda tentang siswa dan sekolah Anda?

 Yang menjadi impian saya pada masa depan adalah melalui merdeka belajar, SD Negeri 7 Nisam mampu mencetak generasi yang cerdas berkarakter sesuai Profil Pelajar Pancasila dan mampu mengoperasikan komputer.

 

J-abarkan rencana (Design)

 

1.      Strategi apa yang harus dilakukan agar dapat mengatasi permasalahan yang muncul dan dapat meraih apa yang Anda impikan?

-     Membuat program literasi sekolah.

Sekolah menyusun Program Literasi Sekolah yang pada pelaksanaannya melibatkan semua Warga Sekolah, baik Pendidik, Tenaga Kependidikan dan Siswa.

 

-     Membuat sudut baca di kelas

Setiap Kelas membuat sebuah sudut baca dengan design yang menarik dan berbeda yang dapat merangsang siswa untuk mau dan gemar membaca

 

-     Membiasakan 15 menit membaca pada kegiatan pendahuluan

Sesuai dengan Kurikulum 2013, melalui Pembelajaran Tematik, kegiatan membaca 15 menit ini tidak harus membaca buku pelajaran namun dapat diberikan Buku Penunjang sehingga lebih menarik minat siswa dalam mengikuti pembelajaran.

 

-     Membuat Mading Kelas

Majalah dinding yang dipasang pada setiap kelas dengan memajang hasil karya siswa dan informasi-informasi penting mengenai pengetahuan dengan tulisan singkat, padat dan jelas, tentunya akan mampu menarik minat siswa dalam menggali informasi yang terpajang pada Mading.

 

-     Berkoordinasi dengan orang tua siswa

Orang tua siswa cukup berperan penting dalan kemajuan sang anak, karena waktu bersama orang tua lebih banyak dibanding dengan waktu siswa di sekolah. Orang tua dapat berperan aktif dalam mendampingi anak belajar di rumah. Sehingga koordinasi yang baik antara Guru dan Orang Tua/Wali siswa akan memberi dampak penting pada keberhasilan diri siswa.

 

-        Menggunakan media pembelajaran Audio Visual

Media Pembelajaran Audio Visual umumnya membuat siswa tertarik dan mampu meningkatkan pemahaman siswa akan materi yang disampaikan guru. Setelah menyaksikan Video Pembelajaran melalui Media Audio Visual, minta siswa menyampaikan kembali apa yang telah mereka saksikan, melalui tulisan kemudian mempresentasikannya ke depan kelas.

 

-   Membiasakan dan menstimulasi siswa agar mau dan berani bertanya dan mengemukakan pendapatnya

Beri pertanyaan dari yang paling mudah sehingga memancing siswa untuk berkomentar, seperti: Apakah kalian suka dengan Video yang barusan kalian saksikan? Menurutmu, bagian mana yang menarik untuk disimak? Mengapa? Dan seterusnya.

 

-        Memberi applause pada siswa yang mau menyampaikan pendapat dan menanggapi pendapat temannya dengan bahasa yang santun dan jelas

Siswa tentu akan merasa senang jika hasil kerjanya, karyanya, pendapatnya dihargasi dan dipuji oleh teman dan gurunya. Beri pemahaman pada siswa, tidak ada pendapat yang salah, jika masih ada yang keliru dapat diluruskan bersama tanpa boleh dicemooh atau ditertawakan. Applause merupakan salah satu bentuk penghargaan yang paling berharga dan menyenangkan bagi siswa.

 

2.      Kapan Anda akan menjalankan rencana dan strategi yang telah Anda susun?

  Setelah membuat perencanaaan yang matang dan mendiskusikan bersama Dewan Guru dan Kepala Sekolah, saya akan langsung menjalankan rencana dan strategi perubahan yang telah saya susun agar impian yang saya idamkan dapat segera tercapai.

 

A-tur eksekusi (Deliver)

 

1.   Siapa saja yang akan membantu Anda dalam menjalankan rencana dan strategi yang telah Anda susun?

Dalam menjalankan rencaa dan strategi yang saya susun, tentunya saya tidak sendiri. Adanya dukungan penuh dari Kepala Sekolah dan kerja sama dengan rekan Guru serta siswa yang akan berperan penting dalam pelaksanaan rencana dan Strategi yang disusun.

 

2.  Bagaimana agar Anda dan Tim tetap berkomitmen dalam mengeksekusi rencana dan strategi yang telah Anda susun?

Tetap menjaga komunikasi dan hubungan baik dengan Siswa, Kepala Sekolah, Rekan Guru, Pengawas, Komite Sekolah, dan Wali Murid agar kami tetap menjaga komitmen sesuai dengan rencana awal. Jika terdapat kendala ditengah jalan, maka segera diskusikan dengan baik untuk mencari solusi terbaik. 

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat.

Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak, Indonesia Maju.

1.3.a.3. Mulai dari Diri - Visi Guru Penggerak

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Hari ini merupakan hari pertama kami para CGP memperlajari Modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak. Setelah pembelajaran, dihapakan para CGP mampu merumuskan visi pribadi mengenai murid dan bagaimana sekolah yang berpihak pada murid di masa depan.

Sebenarnya apa yang dimaksud Visi? Visi merupakan suatu rangkaian kata yang di dalamnya terdapat impian, cita-cita atau nilai inti dari suatu lembaga atau organisasi. 

Saat masih kecil, saya bermimpi menjadi seorang Enterpreneur. Saat masih kecil jika ada yang bertanya tentang cita-cita dan impian, kita menjawab dengan bersemangat tentang profesi yang ingin kita geluti di masa depan. Terlepas dari apakah hal itu dapat dicapai atau tidak. Sebagaimana sebuah Visi yang membayangkan sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga dapat diibaratkan sebagai bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. Visi adalah sesuatu yang belum terjadi saat ini, namun kita yakini akan terwujud di masa depan.

Saya mencoba membayangkan tanggung jawab sebagai seorang guru, dan peran saya sebagai guru penggerak yang harus mau dan mampu mengembangkan diri sendiri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Dengan mengemban peran ini, tentu saja ada harapan bahwa terdapat hal besar yang saya harap dapat saya capai kedepannya. 

Harus benar-benar kita sadari bahwa dengan peran sebagai seorang guru, mendidik bukan sekedar pekerjaan administrasi saat ini karena sasaran kita adalah masa depan anak didik kita pada beberapa waktu mendatang. Tentunya memiliki Visi sebagai guru merupakan sebuah hal penting dalam diri seorang guru.

Tugas kali ini adalah membuat 3 karya yaitu :

Karya 1. Imajiku tentang Muridku di Masa Depan.

CGP dmininta membuat lukisan dengan tema “Imajiku tentang Muridku di Masa Depan”. Lukisan ini menggambarkan mengenai murid seperti apa yang CGP dambakan, lingkungan pembelajaran yang sesuai untuk murid yang CGP cita-citakan serta menggambarkan situasi murid, peran guru, juga suasana sekolah sesuai dengan cita-cita CGP.

Saya merasa senang setelah mampu membuat lukisan tentang harapan saya akan murid saya dengan bantuan Android yang saya miliki.. Lukisan yang saya buat merupakan visi yang menggambarkan seperti apa layanan dan lingkungan pembelajaran di masa depan yang akan saya berikan pada murid saya. 

Karya 2. Merangkai mimpi lewat kata-kata

CGP diminta untuk melanjutkan tiap kalimat rumpang hingga menjadi satu kalimat atau satu paragraf utuh, dengan panduan pertanyaan sebagai berikut:

  • Saya memimpikan murid-murid yang ……………………………………. 
  • Sekolah saya percaya bahwa murid adalah …………………………… 
  • Sekolah saya mengutamakan ………………………………………. 
  • Murid di sekolah saya sadar betul bahwa …………………………. 
  • Guru di sekolah saya yakin untuk ……………..…………………. 
  • Guru di sekolah saya paham bahwa ……………………………….

Karya 3. Mengartikulasikan visi kita tentang murid dan sekolah yang kita impikan dalam satu kalimat

Pada karya ke tiga ini saya mencoba membuat Visi Sekolah berdasarkan Lusian dan Kalimat yang telah berhasil saya lengkapi.

Berikut hasil karya sederhana yang mampu saya lukiskan


Demikianlah yanng dapat saya sampaikan. Terima kasih.


Rabu, 17 November 2021

1.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Nilai dan Peran Guru Penggerak

Nilai dan Peran Guru Penggerak

Oleh Yuliani, S.Pd


Aceh Utara, 17 November 2021 

Assalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Pada kesempatan ini, saya akan mencoba menyampaikan kesimpulan berdasarkan materi modul 1.2. Nilai & Peran Guru Penggerak serta kaitannya dengan modul 1.1. Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Benjamin Franklin mengatakan, “Jika kita gagal merencanakan, berarti sama saja kita sedang merencanakan kegagalan.”  Mari kita rencanakan perubahan ke arah yang lebih baik, jangan pernah takut gagal sebelum mencoba.

Sebelum melaksanakan Aksi Nyata, kami para CGP harus menyelesaikan tugas individu yaitu menyusun rencana perubahan kecil yang perlu dilakukan secara rutin oleh diri CGP sendiri sebagai respon untuk mengaitkan nilai-nilai dan peran Guru Penggerak baik dengan semua materi yang telah dipelajari dalam modul 1.1 dan 1.2 serta materi yang relevan di luar modul ini demi menjadi seorang Guru yang memahami serta menjalankan  nilai dan peran Guru Penggerak dengan baik.

Setelah mempelajari modul, berdiskusi persama rekan CGP, PP dan Fasil pada forum diskusi dan GMeet serta mendengarkan pemaparan materi oleh Instruktur hebat, Bapak Budi Santosa, pada hari Senin, 15 November 2021 pukul 15.30 WIB, saya dapat memahami mengenai nilai dan peran Guru Penggerak dengan lebih baik. Banyak hal-hal positif yang dapat saya ambil sebagai pelajaran.

Diantaranya adalah bagaimana sebenarnya otak manusia bekerja sehingga berpengaruh pada pengambilan keputusan (berpikir) secara cepat dan secara lambat.

Otak manusia telah diprogram untuk mengklasifikasikan situasi. Insting bereaksi lebih cepta mengkalsifikasikan ancaman dibanding menganalisis apakah benar hal itu merupakan sebuah ancaman. Emosi sangat menentukan bagaimana kita mengambil keputusan.  Pengambilan keputusan ini dikelola oleh sistem limbik.

Agar tak terjebak pada situasi yang tak nyaman, maka kita harus dapat melampaui mekanisme lawan dengan lari atau hanya berdiam diri. Otak kita adalah milik kita, yang tak perlu kita lawan, taip sebaiknya kita lebih mengenal dan menerimanya serta memberi waktu bagi “otak” untuk belajar. Membiasakan berpikir lambat dapat menstabilkan emosi kita.  

Berpikir cepat dan berpikir lambat yang kita biasakan pada otak kita, cukup memberi pengaruh pada tumbuh dan berkembangnya nilai dan peran Guru Penggerak dalam diri kita.

Ada 5 peran yang dapat dilakukan oleh Guru Penggerak, diantaranya:

  1. Menjadi Pemimpin Pembelajaran
  2. Menggerakkan Komunitas Praktisi
  3. Menjadi Coach bagi Guru Lain
  4. Mendorong Kolaborasi Antar Guru
  5. Mewujudkan Kepemimpinan Murid

Sementara Nilai yang harus dimiliki oleh Guru Penggerak juga ada 5 yaitu :

  1. Mandiri
  2. Reflektif
  3. Kolaboratif
  4. Inovatif
  5. Berpihak Pada Murid

Melalui keteladanan, dan pembiasaan yang konsisisten dan sistemik akan dapat menumbuhkan Nilai dan Peran Guru Penggerak. Sebagai seorang Guru Penggerak, saya harus menyadari sepenuhnya bahwa untuk dapat menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila pada anak didik saya, sudah sepatutnya jika saya harus membenahi diri saya terlebih dahulu. Saya harus dapat menanam dan menumbuhkan Nilai dan Peran Guru Penggerak dalam diri saya.

Harapan saya dapat melakukan perubahan besar baik pada anak didik dan lingkungan belajar, maka saya harus mau melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri. Intinya seorang Guru Penggerak harus tergerak hati dan dirinya untuk mau bergerak sehingga dapat menggerakkan orang lain.

Terdapat keterkaitan antara nilai dan peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara meyakini bahwa melalui pendidikan dapat menciptakan manusia yang beradab. Melalui pendidikan dapat melatih dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diwariskan.

Sebagaimana Trilogi Pendidikan beliau yaitu :

1.        Ing Ngarso Sung Tulodo yang berarti bahwa seorang guru harus mampu menjaga ego dan mawas diri agar dapat menjadi suri teladan bagi anak didiknya dan masyarakat pada umumnya. Hal ini selaras dengan Peran Guru Penggerak sebagai Pemimpin Pembelajaran, Menggerakkan Komunitas Praktisi dan menjadi Coach bagi Guru Lain yang sesuai dengan nilai Mandiri, Reflektif dan Inovatif.

2.        Ing Madya Mangun Karsa yang dapat dimaknai bahwa seorang guru harus mampu menjadi penuntun dan membangkitkan gairah bagi anak didiknya dalam mencapai prestasi belajar. Hal ini sejalan dengan Peran Guru Penggerak unuk dapat mendorong Kolaborasi Antar Guru yang selaras dengan nilai Kolaboratif.

3.        Tut Wri Handayani bermakna bahwa dari belakang, seorang guru harus mau dan mampu memberi dukungan moral dan semangat belajar bagi anak didiknya. Langkah ini untuk dapat melaksanakan Peran Guru Penggerak dalam hal Mewujudkan Kepemimpinan Murid yang sejalan dengan nilai Berpihak Pada Murid.

Strategi yang bisa saya lakukan untuk mencapai nilai pada bagian Refleksi Terbimbing serta ilustrasi yang sudah saya buat pada Demonstrasi Kontekstual sebagai gambaran diri saya adalah dengan terus belajar dan berbagi dengan para rekan CGP, rekan sejawat, para master pendidikan baik melalui forum formal diskusi, pelatihan tatap muka, pelatihan mandiri maupun diskusi non formal demi menambah pengetahuan dan ketrampilan. Selain itu, saya harus mampu menjaga hubungan baik dengan Kepala Sekolah, rekan guru sejawat, rekan CGP, PP, Fasil dan pihak lainnya yang dapat mendukung nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak. Selanjutnya saya merefleksi kegiatan yang telah saya lakukan, membuat feedback, melakukan evaluasi dan merencanakan tindak lanjut. Dan yang terpenting adalah tetap belajar dan berbagi untuk menjaga dan mengembangkan ilmu yang telah dimiliki.   

Adanya berbagai pihak yang telah dan dapat membantu saya dalam upaya mencapai gambaran diri saya pada Demonstrasi Kontekstual seperti yang saya sebutkan diatas. Diantaranya adalah dukungan dari Kepala SDN 7 Nisam, Ibu Hj. Zulhusniah, S.Pd, yang sangat berperan penting dalam memberi izin bagi saya untuk mengembangkan diri baik dengan menyediakan hal-hal yang saya perlukan untuk kepentingan mengajar seperti pemenuhan material media pembelajaran. Selain Kepala Sekolah yang juga memberi ruang dan waktu untuk berdikusi, juga ada para rekan sejawat yang senantiasa siap berbagi dan saling mendukung kegiatan perubahan dalam pembelajaran yang saya lakukan.


Peran rekan CGP, PP dan Fasil juga tak ketinggalan. Kami saling mendiskusikan tentang manfaat, hambatan dan solusi dalam mempelajari modul dan melakukan perubahan diri untuk melaksanakan Aksi Nyata di lapangan.

Tak kalah penting dari pihak-pihak yang telah saya sebutkan diatas, yaitu Suami dan keluarga yang senantiasa mendukung dan memberikan saya waktu dan kesempatan untuk dapat bergerak dan menggerakkan orang lain.

Terhadap semua itu, saya ucapkan terima kasih yang sangat mendalam. Semoga kebaikan-kebaikan yang kita lakukan dapat bermanfaat dan menjadi berkah bagi kita semua.

Wassalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak, Indonesia Maju.

Minggu, 14 November 2021

Jurnal Refleksi PPGP Angkatan 4 Minggu ke - 4

Jurnal Refleksi PPGP Angkatan 4 Minggu ke - 4  

(Yuliani, S.Pd)

Assalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Untuk mengisi Jurnal Refleksi Minggu ke-4, saya akan merefleksikan pengalaman saya melalui Segitiga Refleksi berikut ini:

Jurnal Minggu ke -4 Model Segitiga Refleksi

Demikianlah yang dapat saya refleksikan minggu ini.

Terima kasih

Kamis, 11 November 2021

Refleksi Mandiri

Wednesday, 10 November 2021, 12:03 PM

by YULIANI Ully

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada kegiatan refleksi mandiri ini, saya akan meninjau kembali perjalanan pencarian jati diri saya sebagai Guru Penggerak. 

Dimulai dengan menggali apa saja nilai yang ada pada diri saya. Awalnya saya hanya siswa yang biasa saja. Siswa yang tak memiliki kelebihan, prestasi pun datar saja, saya berada diurutan tengah. Pada saat saya berusia sekitar 14 tahun, masih di bangku SMP, saya mulai memperbaiki pola belajar saya. Saya termotivasi dengan pesan bijak Ayah saya, "Tak perlu menjadi yang terbaik jika memang tak mampu, tapi teruslah berusaha untuk tidak menjadi yang terburuk".

Saya semakin terpacu agar mampu menjadi yang terbaik demi membahagiakan orang tua saya, saya mengikuti les matematika pada 2 orang guru yang berbeda, saya juga melatih diri dengan mengerjakan soal-soal dibawah pengawasan Ayah saya dan Ayah angkat saya, hingga saya menjadi salah seorang siswa kesayangan karena mampu meraih nilai matematika terbaik di kelas. "Kamu bisa jika memang kamu mau". Suasana belajar yang santai dan tanpa tuntutan dari guru bahwa saya harus bisa, dan mengingat pesan bijak ayah saya, justru menjadi sebuah cambuk bagi saya untuk lebih giat dalam belajar.

Saya mengikuti les komputer pada saat saya duduk di kelas 2 SMA. Instruktur saya mengatakan, untuk dapat menguasai komputer secara otodidak selain Matematika, harus mampu menguasai bahasa yang menjadi bahasa Internasional yaitu Bahasa Inggris.  Jika sudah menguasai komputer, akan mudah menguasai “dunia”. Saat itu saya masih belum paham, apa yang dimaksud "Dunia". Keinginan memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris, yang sudah saya pelajari sejak kelas 1 SMP, sempat terkendala dengan sikap guru bahasa Inggris yang tidak berpihak pada siswa, menyebabkan saya harus belajar bahasa Inggris secara otodidak.

Pada tahun 2008, saya berkesempatan mengikuti Pelatihan CTL Guru Bahasa Inggris tingkat SD se Aceh Utara. Disinilah awal saya berkenalan dengan  Bu Juliani, S.Pd.I, salah seorang CGP Angkatan 4. Dengan bimbingan Bu Nurmaida, M.Pd dan Bu Juliani, S.Pd.I yang begitu ramah dan tak meremehkan saya, serta kerap memberi motivasi bagi saya, Alhamdulillah kemampuan bahasa Inggris mulai membaik.

Dengan sedikit kemampuan saya dalam mengoperasikan Komputer, saya berbagi ilmu bersama para rekan guru agar mereka pun mampu menguasai komputer sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas administrasi guru dan menghidupkan pembelajaran di kelas dengan menggunakan media pembelajaran Audio Visual. Para guru di sekolah saya sesudah mulai menguasai komputer, mampu mencetak sendiri hasil kerja mereka dan menggunakan proyektor dalam pembelajaran.

Peran dari seorang Guru terkait dengan perjalanan hidupnya yang direfleksikan melalui trapesium usia adalah  dengan semakin banyak seseorang memperoleh pembelajaran dari peristiwa yang terjadi pada dirinya, akan memberi kematangan emosional dan perilaku bagi dirinya. Pengalaman akan membentuk kedewasaan seseorang. Guru yang berpengalaman tentu mempunyai prior knowledge yang lebih baik dibanding mereka yang sedikit pengalaman.

Peristiwa yang terjadi pada diri seorang yang berjiwa pendidik, akan dapat menerapkan hal positif yang diterimanya terhadap anak didiknya dan membuang perilaku negatif, agar tak melukai hati dan mental anak didiknya.

Setiap orang tidak terkecuali guru, pasti memiliki kelebihan dan kelemahan pada dirinya, baik sikap ataupun profesionalnya. Sudah tertanam pandangan di tengah masyarakat kita, bahwa guru merupakan orang yang diteladani. Oleh dari itu, sudah selayaknya sebagai seorang guru untuk data menjaga sikap dan perbuatannya serta memperbaiki professionalnya agar dapat menjadi suri tauladan bagi anak didik dan masyarakat.

Setelah mengetahui nilai guru penggerak dari Pendidikan guru penggerak saya merasa perlu lebih memperbaiki diri untuk menguatkan nilai saya sebagai guru penggerak.

Nilai diri Guru Penggerak yang sudah saya miliki sekarang yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Saya merasakan sudah memiliki nilai-nilai tersebut, namun masih belum maksimal dan perlu penguatan yang lebih baik.

Diantara nilai-nilai yang sudah saya pelajari, saya merasa perlu untuk menguatkan nilai reflektif dan berpihak pada murid. Karena saya merasa kurang reflektif terhadap peran saya sebagai seorang guru dan guru penggerak.

Setelah mengetahui peran dari seorang Guru Penggerak, saya merasa sudah turut berperan dalam menjadi Pemimpin Pembelajaran, menjadi Coach bagi Guru lain, mendorong Kolaborasi antar Guru dan mewujudkan Kepemimpinan Murid. Namun saya belum menggerakkan Komunitas Praktisi.

Yang bisa saya lakukan (khusus untuk diri saya) untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak adalah dengan terus mengembangkan diri melalui aktif dalam berbagai pelatihan baik yang diadakan oleh Sekolah, Dinas Pendidikan setempat maupun secara mandiri melaui pelatihan online dan webinar. Selanjutnya, saya juga harus terus menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan Kepala Sekolah, rekan guru baik dari sekolah sendiri maupun dari sekolah lain yang masih dalam satu kecamatan maupun di luar kecamatan. Kemudian, saya harus mempersiapkan refleksi akan kegiatan yang saya lakukan dan rencana perbaikan ke depannya.

Hal yang akan menghambat saya dalam memperkuat peran dan nilai Guru Penggerak dalam diri saya adalah terkadang saya kurang percaya diri dan merasa down saat ada yang mencemooh dan mengkritik tanpa memberi saran perbaikan. Saya bersedia menerima kritikan, namun hendaknya disertai dengan saran untuk perbaikan agar ke depannya ada perubahan yang lebih baik dalam diri saya sehingga saya dapat turut serta dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Demikianlah yang dapat saya refleksikan tentang peran dan nilai guru penggerak dalam diri saya.

Terima kasih. 

Minggu, 07 November 2021

1.2.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 3

Jurnal Refleksi

Oleh Yuliani, S.Pd


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberi rahmat dan hidayahNya  sehingga saya dapat menuangkan Jurnal Refleksi Mingguan melalui tulisan ini. Jurnal ini akan menjadi rekam jejak bagi saya dan para rekan CGP untuk terus semangat dalam belajar dan berusaha untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran demi memajukan Pendidikan Indonesia.

Dalam kesempatan ini saya mencoba merefleksi kegiatan saya dalam minggu ini dalam model Driscoll.

Diawali dengan menggambar Trapesium Usia sebagai kegiatan Mulai Dari Diri.  Trapesium Usia ini menggambarkan usia CGP pada masa usia sekolah, masa usia bekerja dan masa usia pensiun. Disini CGP diminta menceritakan peristiwa positif dan negatif yang dialami pada masa usia sekolah dan peran guru terkait Trapesium Usia.

Berdasarkan peristiwa yang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya, dapat saya tarik kesimpulan bahwa perilaku kita saat ini, dipengaruhi juga oleh peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Pengalaman yang dialami melalui peristiwa langsung akan lebih membekas dan meninggalkan kenangan tersendiri yang jika ditanggapi positif maka akan membentuk karakter kedewasaan seseorang. Peristiwa yang terjadi pada diri seorang yang berjiwa pendidik, akan dapat menerapkan hal positif yang diterimanya terhadap anak didiknya dan membuang perilaku negatif, agar tak melukai hati dan mental anak didiknya.

Pada saat saya mengalami kejadian negatif pada usia sekolah tentunya hal ini sempat membuat saya bersedih dan kecewa bahkan sempat minder. Namun saya sadar, saya tak boleh menyerah. Dengan semangat dan motivasi dari Ayah saya dan juga beberapa Guru, tentunya hal ini membuat saya bangkit dan belajar secara otodidak. Hingga saat ini, jika ada yang meremehkan dan langsung memvonis saya dengan kata-kata negative, walau awalnya down, namun saya tak ingin larut dalam keterpurukan. Saya selalu termotivasi oleh kata-kata Ayah saya, “Tak perlu menjadi yang terbaik jika memang tak mampu, tapi teruslah berusaha untuk tidak menjadi yang terburuk”.

Kejadian ini akan berbeda, jika saja saya tak bangkit dan tak ada yang memotivasi saya. Namun, hingga saat ini saya tak ingin untuk membenci hal tersebut. Bagi saya, ini adalah pengalaman berharga. Saya tak mungkin berada pada kondisi seperti sekarang ini tanpa adanya kesalahan dan kekurangan pada diri saya. 

Saya bisa mendapatkan informasi tambahan agar bisa siap ketika menghadapi peristiwa serupa di masa depan melalui mempelajari referensi terkait, menjalin komunikasi dan sharing bersama para rekan guru hebat, dan pada Forum diskusi pada Pendidikan Guru Penggerak bersama rekan CGP, PP dan Fasil.

Selanjutnya, saya sangat tertarik dengan materi yang dipaparkan pada Video Diagram Identitas Gunung Es yang menggambarkan bagaimana cara menumbuhkan karakter seseorang. Melalui konsep gunung es, kita tidak cukup mempertimbangkan sesuatu dari apa yang terlihat saja. Bagian gunung es yang terlihat dipermukaan air, yaitu bagian karakter hanya sekitar 12 % yang kita sadari dan terlihat oleh orang lain. 88 % dibawah sadar, dalam diri tiap manusia, diperlukan usaha tersendiri untuk melihat dan mengubahnya. Ibarat ada sebuah kotak hitam yang berisi nilai-nilai, kepercayaan, pola pikir, soft skill yang mendasari perilaku seeorang yang menjadi identitas tersembunyi dari diri seseorang. Karakter yang terlihat didasari oleh perilaku yang sering dilakukan (kebiasaan) yang menjadi gambaran karakter seseorang. Fenomena gunung es menggambarkan lingkungan dimana karakter tumbuh: 1. Bagian atas permukaan yang terlihat, kasat mata, bersifat fisik dan dapat disadari 2. Bagian bawah permukaan gunung es, tidak kasat mata, tidak terlihat, bersifat psikis dan tidak mudah untuk disadari. 2 lingkungan ini yang mempengaruhi karakter seseorang perlu dimaksimalkan agar dapat menumbuhkan karakter baik. Sebagaimana halnya karakter seseorang, hanya sebagian kecil saja yang nampak dan disadari oleh diri sendiri, sisanya di bawah sadar yang memerlukan usaha sendiri untuk melihat atau mengubahnya.


Dukungan yang saya butuhkan agar bisa menindaklanjuti refleksi saya adalah kritikan yang disertai saran untuk perbaikan yang lebih baik ke depan.

 

Hal yang sebaiknya saya kerjakan lebih dulu mengidentiikasi karakteristik masing-masing peserta didik, merencanakan tindakan selanjutnya melalui model dan media apa yang cocok saya terapkan bagi peserta didik yang saya ampu agar mampu menumbuhkan minat dan bakat peserta didik sesuai karakter masing-masing.

Setelah saya melakukan pembelajaran ini, hal baru yang ingin saya bagikan kepada rekan atau lingkungan saya adalah sudut pandang terhadap peserta didik tidak hanya dari penilaian luar semata, namun harus kita cari tahu siapa dan bagaimana peserta didik yang kita ampu dan bagaimana menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa demi terwujudnya merdeka belajar sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Mohon kritikan disertai saran yang dapat memperbaiki diri dan karya saya ke depan. Terima kasih.

Rabu, 03 November 2021

1.2.a.3. Mulai dari diri - Nilai dan Peran Guru Penggerak

Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Hari ini hingga 12 hari ke depan, CGP Angkatan 4 Tahun 2021 akan mempelajari secara daring modul 1.2.

Sebagai langkah awal untuk mempelajari modul ini, ada tugas yang harus dikerjakan yaitu Mulai Dari Diri - Nilai dan Peran Guru Penggerak.

Tugas yang pertama adalah membuat Diagram Trapesium Usia saya sendiri dengan mengikuti instruksi berikut:

  1. Saya akan membuat garis miring ke atas, lalu saya tuliskan usia saat saya menyelesaikan masa sekolah pada ujung garis tersebut.

  2. Lanjutkan dengan membuat garis mendatar, yang menunjukkan usia kerja. Pada salah satu titik di garis tersebut, tuliskan angka yang menunjukkan usia Anda saat ini.

  3. Saya membuat garis miring menurun untuk menandakan masa pensiun saya.

  4. Saya harus mengingat dua peristiwa penting pada masa sekolah, satu peristiwa bernuansa positif dan satu lagi yang negatif. Saya harus mengingat dan menceritakan detail peristiwanya dan siapa saja yang terlibat. Kemudian, saya akan menuliskan angka pada garis naik yang menunjukkan pada usia berapa kedua peristiwa tersebut terjadi.

  5. Saya menghitung selisih dari usia saya sekarang dan usia pada saat kedua peristiwa tersebut terjadi.




Mengapa momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat saya rasakan dan masih dapat memengaruhi diri saya di masa sekarang? Karena hal ini merupakan momen indah pada saat sekolah yang hanya bisa menjadi kenangan yang dapat diambil menjadi sebuah pelajaran terbaik.
  1. Fakta Menarik Saat Seseorang Menggunakan Emoticon | KASKUS

Pada saat saya berusia sekitar 14 tahun, masih di bangku SMP, saya mulai memperbaiki pola belajar saya. Saya termotiviasi dengan pesan bijak Ayah saya, "Tak perlu menjadi yang terbaik jika memang tak mampu, tapi teruslah berusaha untuk tidak menjadi yang terburuk".

Saya semakin berusaha menjadi yang terbaik demi membahagiakan orang tua saya, hingga saya menjadi salah seorang siswa kesayangan karena mampu meraih nilai Matematika yang terbaik, saya dapat menjawab soal-soal Matematika dengan lancar dan mudah tanpa merasa terbebani dengan bimbingan Guru Matematika (Pak Heri) dan Bapak Angkat saya (Pak Hadi), yang memberi saya kepercayaan, "Kamu bisa jika memang kamu mau". 

Terpopuler 28+ Download Emoticon Sedih

Selain Matematika, Bahasa Inggris merupakan salah satu pelajaran favorit saya. Namun sayang, sekitar usia 17 tahun, saat duduk di tingkat 3 SMU, Guru Bahasa Inggris yang terkenal Killer ternyata bukan hanya isapan jempol. Beliau tak memberikan saya kesempatan untuk bertanya dan berkomentar. Beliau lebih memberikan peluang untuk maju bagi siswa-siswi yang berasal dari "Keluarga Kaya dan dekat dengan beliau". Pembelajaran berlangsung dengan tegang dan terasa menyesakkan bagi saya.

Namun saya tak larut dalam kesedihan dan berputus asa, hingga saya belajar Bahasa Inggris secara otodidak sembari saya mengikuti Les Komputer. Saya selalu ingat pesan Ayah saya untuk tidak menjadi yang terburuk, meski saya bukan yang terbaik.
My Birthday: anty_wijaya — LiveJournal
Menurut saya, peran dari seorang Guru terkait dengan trapesium usia adalah  dengan semakin banyak seseorang memperoleh pembelajaran dari peristiwa yang terjadi pada dirinya, akan memberi kematangan emosional dan perilaku bagi dirinya. Dengan kata lain, "Pengalaman adalah guru yang sangat berharga".

Pengalaman akan membentuk kedewasaan seseorang. Guru yang berpengalaman tentu mempunyai prior knowledge yang lebih baik dibanding mereka yang sedikit pengalaman.

Peristiwa yang terjadi pada diri seorang yang berjiwa pendidik, akan dapat menerapkan hal positif yang diterimanya terhadap anak didiknya dan membuang perilaku negatif, agar tak melukai hati dan mental anak didiknya.

Kalimat yang dapat menggambarkan nilai-nilai yang saya percayai sebagai seorang Guru, menggunakan kata-kata berikut: Guru, Murid, Belajar, Makna.

"Guru merupakan sebuah pekerjaan yang sangat mulia. Menjadi seorang guru yang tidak hanya mengajar namun juga mendidik muridnya melalui sikap dan perilaku guru yang dapat dijadikan teladan bagi sang murid, merupakan sebuah pembelajaran yang sangat bermakna".

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat. terima kasih.


Senin, 01 November 2021

1.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Assalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

1.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

(Yuliani, S.Pd - CGP Angkatan 4 Kab. Aceh Utara)



Setelah saya mempelajari keseluruhan materi dari Pembelajaran 1 hingga Pembelajaran 6 dan memperkuat koneksi antar materi, saya mencoba untuk memaparkan kesimpulan dan refleksi pengetahuan dan pengalaman baru yang saya pelajari dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Sebelum mempelajari modul 1.1. saya percaya bahwa murid di kelas saya akan mampu mengikuti pembelajaran dengan baik jika saya mau beusaha dan bekerja keras dalam melatih mereka untuk mau dan mampu membaca dan menulis. Suasana belajar nyaman dan tenang kendati siswa tidak memahami apa yang saya sampaikan. Saya memberikan reward and punishment namun ternyata belum mencapai target hasil belajar sesuai dengan KKM yang saya terapkan.

Setelah mempelajari modul 1.1, saya mencoba memperbaiki pola pikir dan perilaku saya dengan lebih menghamba pada siswa. Menghamba disini bukan dimaksudkan menjadi budak. Namun kita sebagai seorang guru tidak mengharap apapun pada anak dan berserah diri. Pendidikan KHD berasas kekeluargaan. Saya harus bisa menjadikan siswa sebagai anak kandung, dimana kesalahan sang anak bukan dosa tapi sebuah kesalahan yang bisa koreksi untuk berkembang bakatnya.

Berikut sedikit rangkuman materi yang saya rekam melalui kegiatan Webinar pertama CGP Angkatan 4 bersama Bapak Sigit Kurniawan. 









Sebagaimana yang disampaikan oleh Ki Priyo, Jumat, 29 Oktober 2021 pada Webinar Nasional Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 Memaknai Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara  pada link https://www.youtube.com/watch?v=y3taiy7_tLo bahwa bakat anak dapat disalurkan melalui kodrat sang anak, yaitu “dolanan (bermain)”. Menuntun sang anak dalam belajar dengan gembira bukan dengan hukuman. Talenta anak akan berkembang maksimal akan berkembang asal selaras dengan kemajuan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam adalah kuasa Allah SWT sementara kodrat zaman dibentuk oleh adat dan kebudayaan manusia.


“Pengajaran hanya memberikan ilmu, tapi pendidikan memberikan ilmu bagaimana menghadapi kehidupan”, demikian ungkap Ki Priyo Dwiarso.

Hal yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD yaitu dengan menerapkan Merdeka Belajar yang sesuai dengan semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Yang dapat saya pahami bahwa didepan, seorang guru atau pendidik harus menjadi panutan atau memberikan contoh, di tengah membangun atau memberikan semangat, kemauan, atau niat serta dari belakang memberikan semangat atau dorongan.

Demikianlah kesimpulan dan refleksi yang dapat saya paparkan.

 Salam Guru Penggerak. Guru Bergerak, Indonesia Maju.

Best Practice Literasi dan Numerasi

Oleh Yuliani, S.Pd Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah saat ini penulis telah menyelesaikan rangkaian kegiatan ...