Oleh Yuliani, S.Pd
CGP Angkatan 4 Kab. Aceh Utara
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberi rahmat dan hidayahNya sehingga saya dapat menuangkan Jurnal Refleksi Mingguan melalui tulisan ini pada hari puasa pertama di Ramadhan 1443 H. Kegiatan menulis jurnal merupakan rekam jejak bagi saya untuk mengetahui apa saja perasaan yang saya alami sebagai pengalaman yang terjadi, kendala yagn saya hadapi dan solusi yang saya lakukan agar dapat meningkatkan kualitas diri demi memperbaiki pembelajaran sehingga mampu memajukan Pendidikan di Indonesia.
Pada minggu ini, tepatnya hari rabu, 30 Maret 2022, saya mendapatkan Pendampingan Individu yang ke 3 oleh Pengajar Praktik. Alhamdulillah pendampingan berjalan baik dan lancar. Keesokan harinya, kami memasuki sesi Elaborasi Pemahaman bersama Instruktur, yaitu dengan Bapak Surya Herdiansyah yang memberikan pendalaman materi tentang Coaching. Alhamdulillah pemahaman saya tentang coaching menjadi lebih bertambah. Beliau memberikan kasus dan meminta kami untuk memberi pertanyaan berdasarkan kasus tersebut, lalu beliau menanggapi pertanyaan yang kami lontarkan dengan baik.
Berdasarkan pengalaman tersebut, saya dapat menarik kesimpulan bahwa dalam Coaching, menggunakan pertanyaan dengan kata kunci apa, siapa, kapan, berapa dan bagaimana jangan pernah menggunakan pertanyaan mengapa, karena akan terasa menghakimi sehingga sang coachee biasanya akan ragu untuk mengemukakan lebih lanjut permasalahannya. Penerapan coaching dalam konteks pendidikan, menurut saya sangat bagus karena akan membantu Coach (guru) menjadi seorang guru yang bijaksana dengan menggali pertanyaan-pertanyaan untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi, menggali potensi diri coachee untuk mengungkapkan solusi, dan mengajak coachee untuk berkomitmen dengan penuh tanggung jawab. Sementara coachee (baik guru maupun siswa) lebih terbuka mengemukakan perasaan dan kendala yang dialaminya dan mampu menjadikannya lebih cerdas karena dapat menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapinya secara bertanggung jawab, tidak hanya sekedar manut dengan saran yang diajukan oleh orang lain.
Berdasarkan refleksi ini, saya membutuhkan dukungan dari rekan guru, Kepala Sekolah, rekan CGP, PP, dan Fasil untuk dapat memberikan kritikan yang membangun serta saran untuk perbaikan yang dapat memotivasi diri saya agar lebih baik ke depan dalam segala hal.
Dalam hal pelaksanaan coaching di sekolah saya, langkah awal yang perlu saya lakukan adalah dengan terus menghidupkan kegiatan pada Komunitas Praktisi yang telah terbentuk. Kemudian saya mensosialisasikan tentang coaching agar dapat diterapkan di sekolah yang tentunya akan memberi dampak positif bagi karakter siswa dan guru yang menjadi lebih mencerminkan karakter positif masyarakat Indonesia.
Setelah pembelajaran ini, hal baru yang ingin saya bagikan kepada rekan atau lingkungan saya adalah bagaimana menerapkan coaching dalam menghadapi dan menanggapi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada warga sekolah dengan arif dan bijaksana.
Demikianlah yang dapat saya refleksikan minggu ini. Saya terbuka menerima kritikan dan saran yang dapat memperbaiki diri dan karya saya ke depan. Terima kasih.
Salam Guru Penggerak. Guru bergerak, Indonesia Maju.
Wassalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar