Senin, 04 April 2022

Koneksi Antarmateri - Coaching

Oleh Yuliani, S.Pd


 Assalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu upaya penerapan pembelajaran yang berpihak pada murid. Pada pembelajaran berdiferensiasi dilakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki murid. Hal ini sebagai langkah awal dalam membuat sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang akan diterapkan di kelas dengan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Diferensiasi dapat dilakukan dalam bentuk diferensiasi konten, diperensiasi proses, dan diperensiasi produk. Dengan adanya pembelajaran berdiferensiasi yang berpatokan pada kebutuhan belajar murid, akan menciptakan suasana yang lebih aktif dan menyenangkan karena siswa terlibat langsung didalamnya.

Pada pembelajaran berdiferensiasi, sebagai seorang guru, kita dapat memetakan kebutuhan belajar murid dengan mengidentifikasi karakteristik setiap anak di kelas, mengetahui kekuatan yang dimiliki murid, memahami gaya belajar dan minat murid. Perhatikan siapa yang memiliki keterampilan menghitung paling baik di kelas dan sebaliknya, siapa yang paling menyukai kegiatan kelompok dan siapa yang justru selalu menghindar saat bekerja kelompok, siapa yang level membacanya paling tinggi dan siapa yang masih perlu dibantu untuk meningkatkan keterampilan memahami bacaan, siapa yang paling senang menulis dan siapa yang lebih senang berbicara. Melalui kegiatan ini, Insya Allah kita dapat memperbaiki kualitas pembelajaran dengan kondisi belajar yang aktif dan menyenangkan.

Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pada PSE, saya memperlajari mindfulness. Mindfullness merupakan sebuah perenungan atas hal-hal yang dialami dalam upaya merespon terhadap kondisi diri sendiri secara lebih tepat. Untuk mencapai pemahaman mindfullness dan mengenali emosi yang ada dalam diri kita, sejatinya kita harus mempraktikkan mindfulness. Salah satunya yaitu dengan menerapkan teknik STOP (Stop, Take a deep Breath, Observe and Proceed).

Ukuran seorang murid dikatakan pada tingkatan well being, “murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan (daya lenting/resiliensi) dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab” (Mcgrath & Noble, 2011).

Berbagai kegiatan berbasis kesadaran penuh (mindfulness) dalam sehari-hari memungkinkan seseorang membangun kesadaran penuh untuk dapat memberikan perhatian secara berkualitas yang didasarkan keterbukaan pikiran, rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan hati (compassion) yang akan membantu seseorang dalam menghadapi situasi-situasi menantang dan sulit. 

Pembelajaran 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara eksplisit berfokus pada:

  1. Pengelolaan Emosi dan Fokus
  2. Empati
  3. Kemampuan kerja sama dan resolusi konflik
  4. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab
  5. Pengenalan Emosi

Komunikasi yang memberdayakan untuk mendukung pelaksanaan coaching meliputi:

  1. Komunikasi yang asertif
  2. Pendengar aktif
  3. Bertanya efektif
  4. Umpan balik positif

Untuk membangun keselarasan berkomunikasi, coach perlu belajar menyamakan posisi diri pada saat coaching berlangsung seperti 

1. Menyamakan kata kunci

Persamaan kata kunci dalam pembicaraan akan berdampak coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi. Kata kunci merupakan kata-kata yang diulang-ulang atau ditekankan oleh coachee dan ini biasanya terkait dengan nilai kehidupan. Coach dapat menggunakan kata-kata kunci ini untuk membimbing coachee untuk mencapai tujuannya.

2. Menyamakan bahasa tubuh

Coach menanggapi apa yang disampaikan coachee dengan senyum atau dengan anggukan sebagai tanda setuju secara tidak langsung. Ikuti gerakan coachee yang bersandar ke lengan kursi atau saat coachee sedang bersemangat bercerita dan mencondongkan tubuhnya ke depan, usahakan  untuk mengikutinya secara halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa bahwa gerakannya sedang ditiru sehingga menyebabkannya menjadi canggung atau berpikiran lain.

3. Menyelaraskan emosi

Komunikasi asertif membangun relasi. Relasi baik dan positif yang terbentuk akan menjadi modal utama dalam process coaching.

Dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan PSE, saya berperan sebagai Penuntun (Sistem Among) atau seorang Coach di sekolah. Saya membantu para rekan guru dan siswa yang menemui kendala-kendala baik dalam pembelajaran maupun permasalahan pribadi lainnya. Saya mempraktikkan pada coachee tentang ilmu coaching yang telah saya pelajari pada modul 2.3 baik secara mandiri di LMS, di ruang kolaborasi bersama rekan CGP dan Fasilitator maupun bersama Instruktur  pada sesi Elaborasi Pemahaman. Pada kegiatan coaching, saya menjadi seorang coach dengan menggali pertanyaan-pertanyaan untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi, menggali potensi diri coachee untuk mengungkapkan solusi, dan mengajak coachee untuk berkomitmen dengan penuh tanggung jawab melaksanakan rencana aksi yang telah dibuatnya.

Keterampilan coaching dapat membantu profesi saya sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid. Dalam menerapkan coaching, yang sangat erat kaitannya dengan Pembelajaran Sosial Emosional, dibutuhkan ketrampilan khusus dari seorang coach, terutama mindfulness dalam upaya menciptakan well being (kesejahteraan hidup). Oleh karena itu, saya sebagai seorang guru yang akan bertindak sebagai seorang coach pada kegiatan coaching, saya harus terus menggali dan mengambangkan ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang coach. Ketrampilan tersebut diantaranya adalah mendengarkan secara aktif, fokus pada tujuan akhir, bertanya pertanyaan yang tepat, komunikasi yang memotivasi, memberikan umpan balik untuk pengembangan.

Demikianlah ulasan saya tentang koneksi antar materi yang telah saya pelajari pada modul 2 Pendidikan guru Penggerak.

Salam Guru Penggerak, Guru Bergerak Indonesia Maju.

Wassalamu ‘alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Best Practice Literasi dan Numerasi

Oleh Yuliani, S.Pd Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah saat ini penulis telah menyelesaikan rangkaian kegiatan ...