Jumat, 04 Maret 2022

Jurnal Refleksi - Minggu 11

Oleh Yuliani, S.Pd

Pengalaman saya mengikuti pembelajaran pada minggu ini yaitu mendapatkan Pendampingan Individu oleh Pengajar Praktik saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas yang saya ampu. Ini adalah kali pertama saya melakukan pembelajaran berdiferensiasi secara daring dengan peserta didik di kelas yang saya ampu tahun ini. 


Siswa mempresentasikan pemahamannya ke depan kelas

Saya juga mendapatkan pengalaman bagaimana mengontrol emosi melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional. Mencoba memahami dan menyelesaikan 5 kasus yang disajikan tentang keadaan seorang guru dengan permasalahan sehari-hari yang dihadapinya, baik dengan murid maupun dengan dirinya sendiri.

Hal baik yang saya alami dalam proses tersebut adalah keaktifan dan kerja sama yang baik dengan siswa dan wali siswa. Saya lebih berusaha untuk dapat mengontrol emosi dan berusaha memperbaiki diri untuk bersikap yang bijaksana dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi baik dalam PBM maupun dalam kehidupan sehari-hari. 

Sagoe Caroeng alias sudut pintar / sudut membaca bagi kelas 4

Hambatan atau kesulitan yang saya alami selama proses pembelajaran pada minggu ini adalah tidak semua siswa memiliki fasilitas yang mendukung pembelajaran secara daring. Kalaupun ada, mereka hanya memiliki Android dengan penguasaan GMeet yang masih sangat minim dan belum mampu mengerjakan tugas di Ms. Word atau powerpoint dengan Android yang belum mereka kuasai sepenuhnya. Yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut adalah memberi kesempatan pada siswa untuk menggunakan satu Android berdua atau bertiga dengan siswa yang berdekatan rumahnya. Kemudian saya meminta siswa untuk menyelesaikan tugas dalam di buku tulis masing-masing dan mengirim tugas dalam bentuk foto. 

Aktivitas Pembelajaran Berdiferensiasi secara daring

Sementara mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosional, Alhamdulillah karena sebelumnya saya telah menerapkan budaya positif yang telah kami sepakati melalui keyakinan kelas yang kami buat bersama, saya tidak menemui hambatan yang berarti. Insya Allah masih dapat saya kuasai. Karena penerapan "Disiplin dulu baru Ilmu" merupakan hal yang penting bagi saya terhadap para murid saya.

Perasaan saya selama pembelajaran berlangsung, sangat senang namun sedikit khawatir. Senang dengan antusias siswa untuk mengikuti pembelajaran secara daring, karena ini merupakan hal baru bagi mereka. Terlihat wajah-wajah gembira dapat berjumpa dengan teman-temannya melalui GMeet. Sementara yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas adalah bahagia, berkurang kecemasan akan target nilai yang tidak tercapai. Hal yang membuat saya merasakan kebahagiaan adalah melihat para siswa aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. 

Pelajaran yang saya dapatkan dari proses ini adalah bahwa tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai dengan kondisi yang menyenangkan. Siswa tidak merasa bosan dan cenderung mengganggu teman. Sebaliknya, mereka merasa senang dan aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Setelah pembelajaran sesi instruktur, saya memahami bahwa KKM setiap semester tidak harus naik, tetapi dapat ditentukan sesuai dengan kebuthan belajar murid. Jadi saya tidak perlu menetapkan target KKM yang tinggi, lalu sekedar mengejar ketercapaian penyampaian materi sehingga melupakan kodrat siswa. Melalui pembelajaran berdiferensiasi dengan Pembelajaran Sosial Emosional, disinilah saya dapat menerapkan student center dengan lebih baik.

Setelah proses ini, saya paham bahwa keberhasilan suatu pendidikan tergantung niat, kerja keras dan keikhlasan kita dalam menjadi fasilitator pendidikan yang menjadikan murid sebagai pusat belajar dengan senantiasa menyadari kodrat anak. Melakukan pemetaan kebutuhan murid sebelum membuat RPP sangat penting bagi pelaksanaan KBM yang bermutu. 

Hal yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan adalah dengan mempersiapkan administrasi mengajar dengan baik, terutama pada bagian KKM dan RPP yang mengedepankan kebutuhan belajar murid melalui pemetaan yang dapat saya ketahui melalui diagnosa awal pada para murid di kelas yang saya ampu. 

Bersama Kepala Sekolah, dewan guru dan Penngajar Praktik pada saat Pendampingan Individu

Setelah belajar dari peristiwa ini, saya akan melakukan aksi/tindakan pengembangan diri yang lebih baik lagi dalam memahami dan mengimplementasikan budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional dengan lebih baik pada kelas yang saya ampu. Dan saya juga mengajak para rekan guru untuk mau bergerak dengan menerapkan hal yang serupa agar mutu pendidikan dapat meningkat, baik dalam hal karakter siswa (sosial dan spiritual) maupun ketrampilan dan pengetahuannya.

Demikianlah yang dapat saya paparkan dalam jurnal refleksi minggu ini. Semoga dapat bermanfaat.

Terima kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Best Practice Literasi dan Numerasi

Oleh Yuliani, S.Pd Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah saat ini penulis telah menyelesaikan rangkaian kegiatan ...