Jurnal Refleksi
Oleh Yuliani, S.Pd
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberi rahmat dan hidayahNya sehingga saya dapat menuangkan Jurnal Refleksi Mingguan melalui tulisan ini. Jurnal ini akan menjadi rekam jejak bagi saya dan para rekan CGP untuk terus semangat dalam belajar dan berusaha untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran demi memajukan Pendidikan Indonesia.
Dalam kesempatan ini saya mencoba merefleksi kegiatan saya dalam minggu ini dalam model Driscoll.
Diawali dengan menggambar Trapesium Usia sebagai kegiatan Mulai Dari Diri. Trapesium Usia ini menggambarkan usia CGP pada masa usia sekolah, masa usia bekerja dan masa usia pensiun. Disini CGP diminta menceritakan peristiwa positif dan negatif yang dialami pada masa usia sekolah dan peran guru terkait Trapesium Usia.
Berdasarkan peristiwa yang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya, dapat saya tarik kesimpulan bahwa perilaku kita saat ini, dipengaruhi juga oleh peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Pengalaman yang dialami melalui peristiwa langsung akan lebih membekas dan meninggalkan kenangan tersendiri yang jika ditanggapi positif maka akan membentuk karakter kedewasaan seseorang. Peristiwa yang terjadi pada diri seorang yang berjiwa pendidik, akan dapat menerapkan hal positif yang diterimanya terhadap anak didiknya dan membuang perilaku negatif, agar tak melukai hati dan mental anak didiknya.
Pada saat saya mengalami kejadian negatif pada usia sekolah tentunya hal ini sempat membuat saya bersedih dan kecewa bahkan sempat minder. Namun saya sadar, saya tak boleh menyerah. Dengan semangat dan motivasi dari Ayah saya dan juga beberapa Guru, tentunya hal ini membuat saya bangkit dan belajar secara otodidak. Hingga saat ini, jika ada yang meremehkan dan langsung memvonis saya dengan kata-kata negative, walau awalnya down, namun saya tak ingin larut dalam keterpurukan. Saya selalu termotivasi oleh kata-kata Ayah saya, “Tak perlu menjadi yang terbaik jika memang tak mampu, tapi teruslah berusaha untuk tidak menjadi yang terburuk”.
Kejadian ini akan berbeda, jika saja saya tak bangkit dan tak ada yang memotivasi saya. Namun, hingga saat ini saya tak ingin untuk membenci hal tersebut. Bagi saya, ini adalah pengalaman berharga. Saya tak mungkin berada pada kondisi seperti sekarang ini tanpa adanya kesalahan dan kekurangan pada diri saya.
Saya bisa mendapatkan informasi tambahan agar bisa siap ketika menghadapi peristiwa serupa di masa depan melalui mempelajari referensi terkait, menjalin komunikasi dan sharing bersama para rekan guru hebat, dan pada Forum diskusi pada Pendidikan Guru Penggerak bersama rekan CGP, PP dan Fasil.
Selanjutnya, saya sangat tertarik dengan materi yang dipaparkan pada Video Diagram Identitas Gunung Es yang menggambarkan bagaimana cara menumbuhkan karakter seseorang. Melalui konsep gunung es, kita tidak cukup mempertimbangkan sesuatu dari apa yang terlihat saja. Bagian gunung es yang terlihat dipermukaan air, yaitu bagian karakter hanya sekitar 12 % yang kita sadari dan terlihat oleh orang lain. 88 % dibawah sadar, dalam diri tiap manusia, diperlukan usaha tersendiri untuk melihat dan mengubahnya. Ibarat ada sebuah kotak hitam yang berisi nilai-nilai, kepercayaan, pola pikir, soft skill yang mendasari perilaku seeorang yang menjadi identitas tersembunyi dari diri seseorang. Karakter yang terlihat didasari oleh perilaku yang sering dilakukan (kebiasaan) yang menjadi gambaran karakter seseorang. Fenomena gunung es menggambarkan lingkungan dimana karakter tumbuh: 1. Bagian atas permukaan yang terlihat, kasat mata, bersifat fisik dan dapat disadari 2. Bagian bawah permukaan gunung es, tidak kasat mata, tidak terlihat, bersifat psikis dan tidak mudah untuk disadari. 2 lingkungan ini yang mempengaruhi karakter seseorang perlu dimaksimalkan agar dapat menumbuhkan karakter baik. Sebagaimana halnya karakter seseorang, hanya sebagian kecil saja yang nampak dan disadari oleh diri sendiri, sisanya di bawah sadar yang memerlukan usaha sendiri untuk melihat atau mengubahnya.


Dukungan yang saya butuhkan agar bisa menindaklanjuti refleksi saya adalah kritikan yang disertai saran untuk perbaikan yang lebih baik ke depan.

Hal yang sebaiknya saya kerjakan lebih dulu mengidentiikasi karakteristik masing-masing peserta didik, merencanakan tindakan selanjutnya melalui model dan media apa yang cocok saya terapkan bagi peserta didik yang saya ampu agar mampu menumbuhkan minat dan bakat peserta didik sesuai karakter masing-masing.

Setelah saya melakukan pembelajaran ini, hal baru yang ingin saya bagikan kepada rekan atau lingkungan saya adalah sudut pandang terhadap peserta didik tidak hanya dari penilaian luar semata, namun harus kita cari tahu siapa dan bagaimana peserta didik yang kita ampu dan bagaimana menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa demi terwujudnya merdeka belajar sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Mohon kritikan disertai saran yang dapat memperbaiki diri dan karya saya ke depan. Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar