Kamis, 11 November 2021

Refleksi Mandiri

Wednesday, 10 November 2021, 12:03 PM

by YULIANI Ully

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada kegiatan refleksi mandiri ini, saya akan meninjau kembali perjalanan pencarian jati diri saya sebagai Guru Penggerak. 

Dimulai dengan menggali apa saja nilai yang ada pada diri saya. Awalnya saya hanya siswa yang biasa saja. Siswa yang tak memiliki kelebihan, prestasi pun datar saja, saya berada diurutan tengah. Pada saat saya berusia sekitar 14 tahun, masih di bangku SMP, saya mulai memperbaiki pola belajar saya. Saya termotivasi dengan pesan bijak Ayah saya, "Tak perlu menjadi yang terbaik jika memang tak mampu, tapi teruslah berusaha untuk tidak menjadi yang terburuk".

Saya semakin terpacu agar mampu menjadi yang terbaik demi membahagiakan orang tua saya, saya mengikuti les matematika pada 2 orang guru yang berbeda, saya juga melatih diri dengan mengerjakan soal-soal dibawah pengawasan Ayah saya dan Ayah angkat saya, hingga saya menjadi salah seorang siswa kesayangan karena mampu meraih nilai matematika terbaik di kelas. "Kamu bisa jika memang kamu mau". Suasana belajar yang santai dan tanpa tuntutan dari guru bahwa saya harus bisa, dan mengingat pesan bijak ayah saya, justru menjadi sebuah cambuk bagi saya untuk lebih giat dalam belajar.

Saya mengikuti les komputer pada saat saya duduk di kelas 2 SMA. Instruktur saya mengatakan, untuk dapat menguasai komputer secara otodidak selain Matematika, harus mampu menguasai bahasa yang menjadi bahasa Internasional yaitu Bahasa Inggris.  Jika sudah menguasai komputer, akan mudah menguasai “dunia”. Saat itu saya masih belum paham, apa yang dimaksud "Dunia". Keinginan memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris, yang sudah saya pelajari sejak kelas 1 SMP, sempat terkendala dengan sikap guru bahasa Inggris yang tidak berpihak pada siswa, menyebabkan saya harus belajar bahasa Inggris secara otodidak.

Pada tahun 2008, saya berkesempatan mengikuti Pelatihan CTL Guru Bahasa Inggris tingkat SD se Aceh Utara. Disinilah awal saya berkenalan dengan  Bu Juliani, S.Pd.I, salah seorang CGP Angkatan 4. Dengan bimbingan Bu Nurmaida, M.Pd dan Bu Juliani, S.Pd.I yang begitu ramah dan tak meremehkan saya, serta kerap memberi motivasi bagi saya, Alhamdulillah kemampuan bahasa Inggris mulai membaik.

Dengan sedikit kemampuan saya dalam mengoperasikan Komputer, saya berbagi ilmu bersama para rekan guru agar mereka pun mampu menguasai komputer sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas administrasi guru dan menghidupkan pembelajaran di kelas dengan menggunakan media pembelajaran Audio Visual. Para guru di sekolah saya sesudah mulai menguasai komputer, mampu mencetak sendiri hasil kerja mereka dan menggunakan proyektor dalam pembelajaran.

Peran dari seorang Guru terkait dengan perjalanan hidupnya yang direfleksikan melalui trapesium usia adalah  dengan semakin banyak seseorang memperoleh pembelajaran dari peristiwa yang terjadi pada dirinya, akan memberi kematangan emosional dan perilaku bagi dirinya. Pengalaman akan membentuk kedewasaan seseorang. Guru yang berpengalaman tentu mempunyai prior knowledge yang lebih baik dibanding mereka yang sedikit pengalaman.

Peristiwa yang terjadi pada diri seorang yang berjiwa pendidik, akan dapat menerapkan hal positif yang diterimanya terhadap anak didiknya dan membuang perilaku negatif, agar tak melukai hati dan mental anak didiknya.

Setiap orang tidak terkecuali guru, pasti memiliki kelebihan dan kelemahan pada dirinya, baik sikap ataupun profesionalnya. Sudah tertanam pandangan di tengah masyarakat kita, bahwa guru merupakan orang yang diteladani. Oleh dari itu, sudah selayaknya sebagai seorang guru untuk data menjaga sikap dan perbuatannya serta memperbaiki professionalnya agar dapat menjadi suri tauladan bagi anak didik dan masyarakat.

Setelah mengetahui nilai guru penggerak dari Pendidikan guru penggerak saya merasa perlu lebih memperbaiki diri untuk menguatkan nilai saya sebagai guru penggerak.

Nilai diri Guru Penggerak yang sudah saya miliki sekarang yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Saya merasakan sudah memiliki nilai-nilai tersebut, namun masih belum maksimal dan perlu penguatan yang lebih baik.

Diantara nilai-nilai yang sudah saya pelajari, saya merasa perlu untuk menguatkan nilai reflektif dan berpihak pada murid. Karena saya merasa kurang reflektif terhadap peran saya sebagai seorang guru dan guru penggerak.

Setelah mengetahui peran dari seorang Guru Penggerak, saya merasa sudah turut berperan dalam menjadi Pemimpin Pembelajaran, menjadi Coach bagi Guru lain, mendorong Kolaborasi antar Guru dan mewujudkan Kepemimpinan Murid. Namun saya belum menggerakkan Komunitas Praktisi.

Yang bisa saya lakukan (khusus untuk diri saya) untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak adalah dengan terus mengembangkan diri melalui aktif dalam berbagai pelatihan baik yang diadakan oleh Sekolah, Dinas Pendidikan setempat maupun secara mandiri melaui pelatihan online dan webinar. Selanjutnya, saya juga harus terus menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan Kepala Sekolah, rekan guru baik dari sekolah sendiri maupun dari sekolah lain yang masih dalam satu kecamatan maupun di luar kecamatan. Kemudian, saya harus mempersiapkan refleksi akan kegiatan yang saya lakukan dan rencana perbaikan ke depannya.

Hal yang akan menghambat saya dalam memperkuat peran dan nilai Guru Penggerak dalam diri saya adalah terkadang saya kurang percaya diri dan merasa down saat ada yang mencemooh dan mengkritik tanpa memberi saran perbaikan. Saya bersedia menerima kritikan, namun hendaknya disertai dengan saran untuk perbaikan agar ke depannya ada perubahan yang lebih baik dalam diri saya sehingga saya dapat turut serta dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Demikianlah yang dapat saya refleksikan tentang peran dan nilai guru penggerak dalam diri saya.

Terima kasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Best Practice Literasi dan Numerasi

Oleh Yuliani, S.Pd Assalamu 'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah saat ini penulis telah menyelesaikan rangkaian kegiatan ...